PERTEMPURAN LAUT GUADALKANAL

Tinggalkan komentar


PERTEMPURAN LAUT GUADALCANAL
(Bagian dari Perang Pasifik pada Perang Dunia II)

Pertempuran Laut Guadalkanal atau menurut sumber Jepang sebagai Pertempuran Laut Solomon Ketiga (第三次ソロモン海戦 Dai Sanji Solomon Kaisen?) 12 November-15 November 1942 adalah pertempuran menentukan dalam serangkaian pertempuran laut antara Sekutu (terutama Amerika Serikat) dan Angkatan Bersenjata Kekaisaran Jepang dalam kampanye militer Guadalkanal yang berlangsung berbulan-bulan di Kepulauan Solomon.

The Naval Battle of Guadalcanal

The Naval Battle of Guadalcanal

Pertempuran laut ini melibatkan kapal-kapal dan pesawat tempur selama lebih dari empat hari, sebagian besar terjadi di dekat Guadalkanal. Penyebab pertempuran adalah usaha Jepang mengirimkan bala bantuan bagi pasukan darat yang berusaha merebut kembali Guadalkanal. Pasukan Sekutu yang sebagian besar adalah pasukan Amerika Serikat, telah mendarat di Guadalkanal pada 7 Agustus 1942, dan berhasil merebut sebuah lapangan udara yang kemudian disebut Lapangan Udara Henderson. Ketika direbut pihak Sekutu, lapangan udara ini sedang dibangun oleh tentara Jepang. Beberapa kali usaha Angkatan Darat Kekaisaran Jepang dan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang untuk merebut kembali Lapangan Udara Henderson gagal walaupun sudah dibantu pasukan tambahan yang didatangkan ke Guadalkanal lewat laut. Dalam usaha berikutnya untuk merebut lapangan udara, Jepang pada awal November 1942 mengirimkan konvoi kapal angkut yang membawa 7.000 prajurit infanteri dan peralatannya ke Guadalkanal. Beberapa kapal perang Jepang ditugaskan untuk melakukan bombardemen terhadap Lapangan Udara Henderson dengan tujuan menghancurkan pesawat tempur Sekutu yang mengancam konvoi kapal Jepang. Setelah rencana Jepang diketahui Sekutu, kapal-kapal perang dan pesawat-pesawat tempur Amerika Serikat mulai melancarkan serangan terhadap konvoi kapal Jepang. Lagi

Iklan

KAPAL TEMPUR JEPANG YAMATO

Tinggalkan komentar


KAPAL TEMPUR YAMATO
(Sebuah Pengabdian Hingga Akhir untuk  Kekaisaran Jepang)

Yamato (大和) adalah kapal tempur Angkatan Laut Kekaisaran Jepang dalam Perang Dunia II, sekaligus kapal utama dalam Armada Gabungan Jepang. Nama kapal ini diambil dari nama Provinsi Yamato. Sebagai kapal pertama dalam kelasnya, Yamato bersama kapal sekelasnya, Musashi merupakan kapal tempur terbesar dan terberat yang pernah dibangun. Berat kapal dengan muatan penuh 72.800 ton, & dipersenjatai dengan 9 meriam utama kaliber 46 cm (18,1 inci).

Yamato

Yamato

Kapal ini dibangun dari 1939 hingga 1940 di Arsenal Angkatan Laut Kure, Prefektur Hiroshima, dan secara resmi mulai ditugaskan pada akhir 1941. Sepanjang tahun 1941, Yamato dijadikan kapal pemimpin yang dinaiki Laksamana Isoroku Yamamoto. Kapal ini pertama kali berlayar sebagai anggota Armada Gabungan selama Pertempuran Midway Juni 1942. Selama tahun 1943, Yamato secara terus menerus dipindah-pindahkan dari Truk ke Kure, dan lalu ke Brunei untuk menghindari serangan udara Amerika Serikat terhadap pangkalan militer Jepang. Yamato hanya pernah sekali menembakkan meriam utama ke sasaran musuh. Kesempatan itu diberikan kepadanya pada bulan Oktober 1944, namun Yamato segera diperintahkan pulang setelah serangan dari kapal perusak dan pesawat-pesawat tempur dari gugus tugas kapal induk pengawal “Taffy” berhasil menenggelamkan tiga kapal penjelajah berat dalam Pertempuran Lepas Pantai Samar. Yamato karam bulan April 1945 dalam Operasi Ten-Go. Lagi

PERTEMPURAN LAUT KARANG ( CORAL SEA )

Tinggalkan komentar


Pertempuran Laut Karang

Pertempuran Laut Karang atau Pertempuran Laut Koral 4 Mei-8 Mei 1942 adalah pertempuran laut besar di medan Perang Pasifik antara Angkatan Laut Kekaisaran Jepang melawan angkatan laut dan angkatan udara Sekutu dari Amerika Serikat dan Australia. Pertempuran ini merupakan pertempuran laut pertama antara dua armada yang melibatkan kapal induk, dan dicatat sebagai pertempuran laut pertama dalam sejarah yang melibatkan kapal-kapal perang kedua belah pihak yang tidak saling menembak secara langsung dari kapal ke kapal. Dalam usaha memperkuat posisi defensif wilayah Kekaisaran Jepang di Pasifik Selatan, Kekaisaran Jepang memutuskan untuk menginvasi dan menduduki Port Moresby di Nugini dan Tulagi di tenggara Kepulauan Solomon. Rencana operasi ini disebut Operasi MO yang melibatkan beberapa unit utama dari Armada Gabungan Jepang, termasuk pesawat-pesawat dari dua kapal induk dan sebuah kapal induk ringan sebagai perlindungan udara armada invasi. Sebagai panglima tertinggi Jepang adalah Shigeyoshi Inoue. Lagi

%d blogger menyukai ini: