TENGGELAMNYA KAPAL PRINSENDAM

Kapal Prinsendam pernah turut berjasa memperkenalkan dunia pariwisata Indonesia di manca negara. Pada tanggal 4 Oktober 1980, kapal pesiar mewah itu tenggelam di perairan Alaska, setelah mengalami musibah kebakaran. S. Sudarto menjadi ABK di situ sejak kapal diluncurkan dari pabriknya di Negeri Belanda, sampai riwayatnya tamat. Ia menuturkan pengalamannya saat-saat kapal itu tenggelam.

Prinsendam

Prinsendam Tenggelam

SELAMA tujuh tahun (1974-1980), kapal milik perusahaan pelayaran Belanda, Holland America Line, itu memancing wisatawan Amerika, Kanada, dan Eropa, untuk datang ke Singapura, lalu dibawa keliling Indonesia selama 14 hari. Paket pelayanan wisata ini berlangsung secara rutin setiap musim dingin di belahan bumi utara.

Seperti kapal-kapalan 
Pada bulan April 1980, saya mengikuti kapal lepas dari Indonesia, dalam pelayaran dari Yokohama menuju Pelabuhan Sitka di Alaska Tenggara. Pelayaran menyeberangi Pasifik Utara yang luas itu memakan waktu 10 hari siang-malam tanpa berhenti. Laut boleh dikata lebih sering berombak besar daripada tenang. Kalau laut sedang bergolak begitu, aduh …. Kapal seberat 10 ribu ton itu terombang-ambing, dibanting ke sana-kemari seperti mainan anak-anak. Guncangan yang bertubi-tubi menyebabkan semua orang mabuk laut: tidak doyan makan, kepala pusing, perut seperti dikocok, lalu muntah habis-habisan. Rasanya benar-benar setengah mati.
Lima bulan kemudian, Prisendam selesai bertugas di Alaska, lalu bersiap-siap untuk kembali ke Indonesia. Selama musim dingin, alam Alaska serba dingin dan membeku. Segala objek wisata tertutup es. Tidak ada wisatawan yang mau pergi ke Alaska.

Di Vancouver, Kanada, gudang kapal dipasok dengan berbagai bahan makanan dan minuman, bahan-bahan rumah tangga, seperti kertas kloset, kertas tissue dan sebagainya. Minuman keras untuk kebutuhan bar, terutama merek-merek yang langka, dilengkapi untuk waktu setengah tahun pelayaran di Indonesia. Tangki diisi penuh dengan solar untuk penyeberangan Jepang. Komputer kapal yang sering rewel dibuang, diganti komputer baru yang lebih canggih.
Kapal mulai embarkasi dengan 320 penumpang wisatawan. Hampir semua golongan manula. Bersama 190 ABK, kapal meninggalkan Vancouver menuju Sitka, pelabuhan terakhir di Alaska, dalam penyeberangan Pasifik yang diberi nama sandi Trans Pacific Cruise.

Kebakaran dini hari

PRINSENDAM mulai terbakar ( October 1980 )

PRINSENDAM mulai terbakar ( October 1980 )

Malam sebelumnya datangnya musibah, kami masih riang gembira. Ketiga bar kapal padat dengan pengunjung. Band di lounge mengalunkan melodi sedang. Para penumpang asyik melantai dan menikmati musik. Teman baik saya, Aeberli – chief cook atau koki kepala berkebangsaan Belanda, membawa istrinya dalam pelayaran ini. Kesempatan itu merupakan hadiah dari Holland America Line, atas pengabdiannya bekerja 28 tahun dalam perusahaan tersebut. Malam itu, Ny. Aeberli ikut bertugas sebagai penerima tamu pada showbuffet atau pameran makanan di Lido. Pameran demikian selalu diadakan satu kali dalam pelayaran. Hidangan lezat ditata rapi. Semua tamu dipersilahkan makan dan mengambil sesuka hati. Pendek kata, kalau soal makanan untuk penumpang, kapal pesiar mewah boleh disamakan dengan istana raja. Beberapa jam kemudian pada tanggal 4 Oktober 1980 dini hari, 300 km setelah kapal meninggalkan Sitka, selagi para penumpang dan ABK enak-enak tidur, kami dikejutkan bunyi tanda bahaya dari pengeras suara. Suaranya mengaung lewat lorong-lorong dan tempat-tempat umum. Waktu itu pukul satu dinihari. Tak berapa lama, tanda bahaya itu meraung-raung lagi, disusul suara pengumuman dari nakhoda yang terdengar lewat pengeras suara di setiap kabin. “This is your Captain speaking. We have a small fire in the engine room. it is under control, but for your own safety, please report to the promenade deck.”(Ini Kapten Anda berbicara. Ada kebakaran kecil di kamar mesin, tetapi sudah dapat dikuasai. Demi keselamatan Anda, harap berkumpul di promenade deck.)

Perintah nakhoda itu membuat semua orang panik. Setiap orang bergegas ke luar dari kamar menuju ke promenade deck, yaitu lounge atau bangsal besar yang biasa dipakai untuk acara-acara hiburan. Para penumpang berdesakan di lorong-lorong. Ada yang hanya memakai gaun tidur, piyama, dan ada yang hanya bersarung selimut. Banyak yang tanpa alas kaki. Melihat beberapa orang menenteng rompi pelampung, sejumlah lain lari kembali ke kamar untuk mengambil pelampungnya. Disetiap kamar memang disediakan rompi pelampung. Beberapa orang tua terengah-engah karena harus naik-turun tangga. Memang ada lift, tetapi dalam keadaan bahaya itu tidak diperbolehkan naik lift. Bisa macet dan terjebak di dalam.

Toko kapal didobrak 

Prinsendam

Helikopter Penjaga pantai alaska sedang menolong korban

Ny. Aeberli,yang semalam masih bertugas di Lido, tampak gemetaran. Saya mendekatinya dan meminta kepadanya untuk tabah menghadapi bahaya seperti ini. Para ABK yang juga ikut berkumpul di lounge, berlarian ke sana-kemari, mencarikan baju-baju hangat buat para penumpang. Melihat beberapa orang tidak berpakaian, seorang perwira kapal memerintahkan agar gift-shop kapal di dobrak, dan semua yang berujud pakaian didalam toko dibagi-bagikan. Ada yang bisa pas, ada yang mendapat pakaian anak-anak. Semua bar juga diperintahkan untuk dibuka, dan setiap orang boleh minum gratis untuk menghangatkan tubuh. Para ABK juga boleh ikut minum. Petugas pemadam kebakaran dengan wajah bertopeng, dan perwira-perwira sibuk naik-turun, membawa tabung-tabung penyemprot api. Semua orang yang menyaksikan kesibukan itu bertambah cemas dan takut. Kemudian ada pengumuman lagi dari nakhoda, memperingatkan agar tidak perlu panik, karena api akan dapat dikuasai. Wajah-wajah kita menampakkan perasaan lega, meskipun tetap was-was dalam hati. Para pemain orkes dari Filipina di perintahkan memainkan musik untuk hiburan.

Sebagian besar ABK tetap menyadari tugas masing-masing dalam keadaan bahaya seperti itu. Mereka keluar di udara terbuka yang dingin, dan menyiapkan sekoci-sekoci yang bergelantungan di lambung kapal. Sampai pukul 02.00 belum ada pengumuman lagi dari nakhoda. Musik di lounge masih memainkan lagu Oklahoma dan South Pacific. Namun, tak seorang pun dari ratusan tamu yang berjubel itu tampak menggubris lagu tersebut. Semua cemas dan berdebar-debar menantikan berita lebih lanjut dari pengeras suara.

Mendadak tampak lidah api menjilat ke luar dari lubang di bawah jendela luar. Beberapa orang yang melihatnya berteriak, “Fire, fire …” Keadaan makin kalut. Semua orang lari pontang-panting ke atas pintu keluar. Para pemain musik berlarian dan meninggalkan peralatan mereka begitu saja. Penjaga bar juga lari menyelamatkan diri. Para perwira kapal berteriak-teriak agar setiap orang menuju ke nomor sekoci masing-masing. Petugas dan ABK sibuk melayani pelbagai pertanyaan dari para penumpang tentang nomor sekoci dan tata cara peragaan boatdrill yang telah diajarkan.

Istri nakhoda aktif membantu

Prinsendam

Ditolong kapal williamsburg

Udara sangat dingin. Perasaan takut dan cemas bercampur-aduk. Hati berdebaran, ingin lekas terhindar dari malapetaka ini. Para petugas kebakaran dibawah sudah muncul pula ke atas. Mereka kewalahan dikejar asap yang gelap dan tebal. Tampaknya tak ada harapan untuk bisa mengatasi lebih lanjut. “Pintu bahaya dan lorong-lorong sudah ditutup semua,” tutur mereka.
Sebanyak delapan buah sekoci dan tenderboat sudah diturunkan semua sampai batas promenade deck luar. Semua orang berlarian ke tempat itu, dan berebut naik. Sebuah sekoci mestinya hanya untuk 60 orang, tetapi ada yang sampai dijejali 80 orang. Sampai agak lama, masih belum juga ada perintah untuk menurunkan sekoci ke air. Raut wajah setiap orang pucat dan tegang. Di antaranya ada yang menangis. Saya berdoa, dan pasrah. Mungkin ini akhir hidup saya, pikir saya. Nakhoda kapal, Captain Wabeke, bertindak sangat hati-hati. Perintah dan instruksinya sangat tenang. Dia betul-betul menjaga untuk tidak sampai menimbulkan kepanikan semua orang. Dalam pelayaran ini dia juga disertai istrinya, Ebrina. Dia bahkan ikut aktif membantu suaminya di tengah kesibukan maut ini.
 
Sebelum sekoci-sekoci turun ke bawah, para perwira petugas berteriak-teriak memperingatkan para ABK tidak boleh nimbrung dalam sekoci penumpang. Mereka harus turun belakangan pakai literaft, yaitu perahu karet yang bisa menggelembung sendiri. Tak urung, banyak ABK yang sudah terlanjur masuk membaur dengan penumpang, dan rupanya segan untuk keluar lagi.
Pukul 04.00, semua sekoci mulai diturunkan. Para perwira memberi aba-aba keras kepada semua orang agar waspada dan berpegang erat-erat dalam sekoci, karena ada kemungkinan terjadi benturan dengan dinding kapal sewaktu diturunkan. Dalam kegelapan itu, benturan sekoci ke permukaan air laut sangat mengagetkan, sehingga orang-orang yang berdiri jatuh tersungkur.

Dalam keremangan fajar itu, terlihat seperti ada raksasa tak jauh dari tempat itu. Ternyata kapal tanker Williamsburg yang berbobot  225.000 ton. Tanker itu memuat minyak mentah dari Valdez, dalam pelayaran ke Texas. Ia menerima berita SOS di tengah malam, lalu menuju posisi 57,38 derajat LU dan 140,25 derajat BB, tempat Prinsendam berada. Sebenarnya ia sudah lewat satu jam di Selatan, dan terpaksa balik lagi ke Utara untuk usaha memberi pertolongan.

Diciduk dengan keranjang

Ilustrasi Penyelamatan

Ilustrasi Penyelamatan korban kapal prinsendam

Sementara itu, pagi mulai terang. Beberapa helikopter meraung-raung dan menurunkan keranjang-keranjang berisi orang ke geladak tanker. Pagi itu dingin bukan main. Teman saya (ABK juga), Remy, saking gugupnya tercebur ke laut ketika mau pindah dari literaft ke sekoci saya. Untung ia berhasil kami tarik beramai-ramai, dan selamat. Rizal, juga seorang ABK tukang masak menggelepar dan kejang-kejang di dalam sekoci. Ia lalu kami gotong dan kami masukkan ke dalam keranjang ketika heli datang. Saya bersama puluhan orang lain yang masih berada di dalam sekoci mendayung sekuat tenaga, menjauhi Prinsendam. Kami khawatir, kalau kapal itu tenggelam dalam waktu singkat maka sekoci kami bisa ikut tersedot ke dasar laut.

Akhirnya sekoci saya berhasil mendekati Williamsburg, dan merapat pada dinding kapal. Ombak sudah agak besar, sehingga sekoci membentur-bentur dinding kapal. Dua orang penumpang wisatawan berusaha meraih tangga tali berpalang kayu yang terjuntai dari kapal. Dua orang penumpang wisatawan berusaha meraih tangga tali berpalang kayu yang terjuntai dari kapal. Mereka berusaha memanjat, tetapi baru naik dua palang sudah menyerah. Para orang lanjut usia tidak mungkin memanjat jarak setinggi itu. Sebuah heli yang menyaksikan usaha itu segera terbang mendekat, dan menurunkan keranjang. Orang-orang yang masih bergelantungan di tangga tali segera meluncur turun, dan masuk ke dalam keranjang. Keranjang heli itu masih naik-turun sampai enam kali. Dalam waktu lima belas menit, semua penumpang sekoci saya tertolong naik ke kapal tanker.

Aneka cerita duka
Semua orang yang berhasil diselamatkan menggerombol di lorong-lorong tanker Williamsburg dengan perasaan lega. Masing-masing asyik menceritakan pengalaman dan kelucuan dalam saat-saat maut yang menegangkan itu. Seorang wisatawan wanita tua menggeletak dalam sekoci dengan gaun basah kuyup. Semua orang menyangka dia sudah meninggal. Tahu-tahu tangannya merogoh-rogoh ke dalam saku, dan mengeluarkan sebotol kecil wiski. Minuman itu diteguknya sendiri tanpa mempedulikan orang-orang disekitarnya. Di dalam sekoci saya terdapat Anne Correy dari Maryland, AS. Dia terpisah dari ibunya. Pasangan suami-istri Davidson dari Highland, AS, berpesiar dengan Prinsendam untuk merayakan ulang tahun kawin perak mereka. Selama sepuluh jam mereka mengalami siksaan mental, terapung-apung dalam sekoci di tengah laut, di hantam ombak dan hujan, diterpa angin dingin. Mereka sangat menyesal tidak pernah belajar mendayung, karena didalam sekoci mereka hanya dua orang yang sanggup mendayung. Penumpang lainnya kebanyakan orang-orang lanjut usia yang tak kuat memegang dayung.

Seorang penumpang tua bercerita dengan air mata bercucuran, “Tadi saya setengah mati untuk bisa masuk ke dalam sekoci dan berdiri terus. Kami diturunkan dari ketinggian 10 m diatas air, lalu tali dilepas sampai kami hampir terpelanting. Sekoci kami terombang-ambing seperti yo-yo. Dalam sekoci kami tidak ada pimpinan. Baru 25 menit kemudian, setelah di otak-atik, kami berhasil menghidupkan mesin sekoci.” Setiap orang memang mendapat pengalaman pahit. Kerugian masing-masing tidak kecil. Barang-barang penting, perhiasan, uang, kartu kredit, obat-obatan tak sempat terbawa. Semua hilang dan musnah ke dasar laut.

Benar-benar mengherankan

Prinsendam

Prinsendam mulai miring dan tenggelam

Para korban Prinsendam kemudian diantar masuk ke kamar-kamar oleh ABK Williamsburg. Setiap kamar diisi 15-20 orang. Semua diberi selimut dan kopi panas. Lebih dari enam helikopter meraung-raung sekeliling perairan, mencari korban yang masih tercecer. Sekoci-sekoci dan literaft yang berpencaran, diamati dan diburu. Penumpangnya diselamatkan. Armada helikopter itu ternyata berasal dari pantai, milik penjaga pantai Alaska. Siang hari, api di kapal Prinsendam makin membesar. Asap hitam membumbung ke angkasa. Namun, ia belum juga tenggelam ketika kami diberangkatkan ke Valdez. Sekarang ini, kalau saya sedang melamun mengingat tenggelamnya Prinsendam, saya tak habis pikir. Rasanya seperti ada tangan gaib. Bayangkan bencana kebakaran kapal besar di tengah samudera luas. Sebanyak 320 penumpang lanjut usia, dan 190 ABK semua berhasil selamat, tak ada seorang pun yang meninggal, atau bahkan cacat. Padahal kejadian pada malam yang gelap, di tengah ombak besar dan hawa dingin seperti es itu tak dapat dikatakan musibah kecil.

Saya bersyukur bahwa saya masih hidup, meskipun segala barang milik pribadi hilang. Uang, pakaian, surat-surat, dan barang oleh-oleh dari Kanada untuk anak-istri semua ludes. Bahkan dokumen-dokumen kapal, paspor milik seluruh ABK dan para penumpang, uang ribuan dolar dalam lemari besi, perhiasan dan barang-barang berharga di dalam kotak pengaman, lenyap semua ke dasar laut. Selama tiga hari, kapal yang sudah hangus, terombang-ambing sebatang kara, terus-menerus kemasukan air dan dihantam ombak itu, akhirnya tenggelam, 3.000 m ke dasar samudera. Sungguh sayang. Kapal mewah seharga 26 juta dolar (sekitar Rp. 40 Milyar) itu hanya berumur tujuh tahun.

Source: Majalah Intisari, No.317 Desember 1989