WORLD CUP 60 TAHUN

Juni  tahun 1990 World Cup genap enam dasawarsa. Suatu peristiwa besar bagi pecinta sepakbola. Cuplikan – cuplikan peristiwa yang terjadi selama 60 tahun itu, mungkin menarik untuk dikenang kembali.

Sebetulnya gagasan untuk mengadakan turnamen internasional, dimana pemain amatir, bayaran  atau semi bayaran boleh ikut, sudah dikemukakan pada tahun 1895 oleh wartawan sepak bola Jerman, Walter Bensemann. Namun ide itu sulit direalisasi, sebab persepakbolaan di Eropa kurang terorganisasi. FIFA (Federation International de Football Association)baru didirikan pada tanggal 21 Mei 1904 di Paris. Yang hadir wakil dari enam negara Eropa yaitu Belgia, denmark, Perancis, Belanda, Spanyol dan Swis. Jerman ingin menyatakan menjadi anggota lewat kawat, sedangkan Swedia menyusul tidak lama kemudian, sedangkan Inggris hanya mendukung idenya. Gagasan World Cup segera dibicarakan tetapi baru terwujud lwbih dari 25 tahun kemudian. Ada dua orang Perancis yang sangat berperan dalam perkembangan FIFA dan mewujudkan ide kejuaraan dunia. Mereka adalah Jules  Rimet dan Sekretaris FFF (Persatuan Sepakbola Perancis).

Uruguay 100 Tahun

Henry Delaunay dalam kongres FIFA tahun 1926 mengemukakan bahwa kejuaraan dunia antara semua pemain (amatir maupun bayaran) terbaik harus segera diadakan. Dalam kongres tahun 1929 di Barcelona. Uruguay terpilih sebagai penyelenggara kompetisi itu. Empat negara lain yang mengajukan diri ialah Italia, Belanda, Spanyol, dan Swedia. Alasan Uruguay dipilih sebagai tempat penyelenggaraan pertandingan World Cup pertama ialah karena mereka dua kali berturut turut menjdi juara Olimpiade, yakni tahun 1924 dan 1928. Selain itu pada tahun 1930 negara yang berpenduduk hanya dua juta jiwa itu akan merayakan seabad kemerdekaannya. Untuk itu Uruguay bersedia menanggung semua biaya perjalanan  dan ongkos tinggal selama disana bagi semua  negara peserta. Mereka juga akan membangun stadion  dengan kapasitas 80 – 100 ribu penonton, dalam waktu delapan bulan. Ternyata stadion itu baru bisa dipakai waktu pertandingan final.

Hampir Ngambek

Dua bulan menjelang awal kejuaraan 13 Juli 1930 belum ada satu pun negara Eropa yang mendaftarkan diri atau menyatakan diri turut serta. Alasan keberatan mereka adalah karena dua bulan meninggalkan rumah dan pekerjaan, termasuk dua sampai tiga minggu perjalanan naik kapal. Negara negara Amerika Latin mrah sekali. Mereka pun membicarakan secara serius kemungkinan untuk putus dengan FIFA dan mendirikan Federasi baru. Markas FIFA di Zurich kalang kabut. Batas waktu pendaftaran diundur. Belgia adalah negara pertama yang bersedia untuk hadir, karena merasa berkewajiban menjadi salah satu negara pendiri FIFA. Sedangkan Rumania memerlukan campur tangan Raja Carol dulu (ketika Rumania masih Kerajaan). Soalnya sebagian pemain bekerja pada perusahaan minyak Inggris yang tidak memberi ijin cuti dua bulan. Namun berkat telepon langsung Raja Carol urusan jadi beres. Kemudian meyusul Yugoslavia. Kurang sebulan sebelum kapal berangkat ke Montevideo, Perancis memutuskan untuk turut, Mereka merasa berkewajiban untuk membalas kedatangan  Uruguay di Olimpiade Paris tahun 1924.

Kiper Mazzali Tertangkap Basah

Sebagai tuan rumah Uruguay bertekad untuk menang. Bahkan sudah memastkannya. Stadion Perayaan seabad akan mempunyai tiga tribun utama dan akan biberi nama menurut tempat – tempat dimana Uruguay menjadi Juara turnamennya, yaitu Colombes (1924, stadion di Paris), Amsterdam (1928) dan Montevideo. Menjelang turnamen selama dua bulan pemain Uruguay dikarantian di sebuah hotel mewah ditengah taman yang paling indah di Montevideo, Prado. Konon ada 150.000 batang pohon yang ditanam di situ. Peraturan ketat sekali. Tidak seorang pemainpun diperkenankan meninggalkan hotel waktu malam atau menginap diluar hotel. Suatu malam salah seorang pemain  diam diam keluar hotel dan menginap dirumahnya. Kebetulan pemain itu ialah Mazzali, kiper terbaik Uruguay, pahlawan olimpiade tahun 1928. Baru menjelang subuh, bagaikan maling, Mazzali menyelinap amsuk ke hotel, denagn menenteng kedua sepatunya. Saat akan masuk kamar itu, ia kepergok pelatihnya. Hari itu juga dan selama kejuaraan berlangsung, Mazzali dirumahkan, walaupun dia lebih baik dari kiper cadangan yang menggantikannya. Akhirnya toh Uruguay masuk final melawan Argentina. Pertandingannya b erlansung tanggal 30 Juni 1930. Sepuluh kapal barang dicarter untuk mengangkut suporter argentina. Walau kapal sudah penuh sesak, namun masih ada ribuan orang berdemontrasi di Buenos Aires minta tambahan kapal. Ketika akhirnya  kapal berangkat pukul 22.00 menjelang final, banyak orang berkerumun dipuinggir  laut untuk mengantarkan mereka. Kembang api dipasang dan orang menyanyi “Argentina Si, Uruguay No”  Menang atau Mati diperbatasan semua orang argentina digeledah petugas Bea Cukai, dan polisi mencari senjata api. Penggeledahan itu  diulang dipintu masuk stadion. Pintu stadion dibuka pukul 08.00 untuk pertandingan yang dimulai pukul 14.00. Biarpun stadion bisa memuat 100.000 orang, jumlah penonton dibatasi menjadi 90.000, karena pengalaman buruk pada hari pertama. Waktu itu polisi diserbu penonton. Locket karcis juga samapi diberi kawat pengaman.

Bola siapa harus dipakai ..?

Semua berjalan lancar, mungkin berkat pengerahan polsii dan tentara  bersenjata  lengkap. Dalam pertandingan itu yang menjadi wasit adalah Jean Langenus dibantu oleh hakim garis juga dari eropa. Tetapi Kick- Off tertunda oleh sesuatu yang tidak terduga. Masing masing pihak menghendaki bermain dengan bola buatan negerinya sendiri. Sedangkan peraturan mengenai hal iti tidak ada. Akhirnya diputuskan untuk dadakan tos di lapangan. Wasit Langenus masuk lapangan dengan memeluk dua bola ditangan kanan dan kirinya. Diringi bunyi petasan, tos dilaksanakan, bola argentina yang keluar sebagai pemenang. Waktu istirahat kedudukan 2-1 untuk Argentina. Stadion sunyi sepi, seakan orang orang Uruguay lemas terpukul. Namun ketika Pedro Cea menyamakan kedudukan stadion seperti meledak. Lebih lebih ketika Santos Irarte dan Castro menjadikan skor 3-2 dan 4-2. Uruguay berpesta pora, klakson mobil dibunyikan, sirene kapal dipelabuhan meraung raung, bendera dan spanduk berkibaran. Keesokan harinya dinyatakan sebagai hari libur Nasional. Piala emas seharga 50.000 frank karya pemahat Perancis Abel Lafleur, diserahkan oleh Jules Rimet, Para pemain akan diberi berbagai hadiah. Di Argentina tercetus suara sumbang. Konon orang Uruguay kejam, wasit Langenus bertindak berat sebelah, sampai sampai di Benuos Aires massa berdemontraso di depan konsulat Uruguay dan melemparinya dengan batu. Federasi Sepak bola Argentina memutuskan hubungan dengan federasi Uruguay.

Mengapa Italia Terpilih ..?

Untuk pertandingan tahun 1934 yang terpilih adalah Italia, karena negara itu mempunyai Federasi sepak bola yang kaya raya. Diberbagai kota terdapat stadion yang memadai sebab tidak mungkin lagi turnamen dilangsungkan di satu tempat seperti tahun 1930 di Montevideo saja. Dikejuaran dunia tahun 1934 itu ada dua tim terbaik yaitu Italia dan Asutria . Final yang benar benar sebetulnya terjadi babak semi final. Ketika itu tim Italia dan Austria bertarung. Dua tokoh sepak bola dari dua negara tsb, yang sangat menonjol waktu itu adalah Vittorio Pozzo dari Italia dan Hugo Meisl dari Austria pencipta “Wunderteam” (Team Mukjizat) Kejuaraan dialakukan menurut sistem Knock Down. Di Milano, Italia berhasil mengalahkan Austria 1-0. Austria dikalahkan juga oleh Jerman 3-2 dalam memperebutkan tempat ketiga, Italia akhirnya menjadi juara setelah menang dari Cekoslovakia 2-1 setelah perpanjangan waktu (0-0, 1-1) Pada waktu itu belum ada cara menentukan pemenang dengan tendangan pinalti. Kalaupun masih seri, meski waktu sudah diperpanjang, pertandingan akan diulang. Selama itu tidak pernah terjadi bahwa pertandingan ulang juga berakhir imbang. Italia bukan hanya memenangkan World Cup tetapi juga mengantongi laba 1 juta lyra.

Dilarang Main Telanjang Kaki

 Seperti pada tahun 1934 kejuaraan tahun 1938 di Perancis juag di langsungkan dengan sistem Konck Down. Dibabak perempat final Breazil berhadapan dengan Cekoslovakia yang berakhir dengan kedudukan 2-1 untuk Brazil. Pertandingan pertama antara Brazil dan Cekoslovakia di Bourdeaux itu berlangsung keras dan kasar. Sehingga dlam sejarah World Cup pertarungan itu tercatat sebagai “The Battle of Bourdeaux” (Pertempuran Bourdeaux) Betapa tidak dalam pertandingan itu tiga pemain dikeluarkan oleh wasit Hertzka dari Hongaria Dua pemain Brazil Machados dan Zeze serta seorang dari Ceko: Riha. Kiper Planicka dan  Nejedly dari Ceko harus masuk rumah sakit. Gelandang kanan Ceko Kostalek luka cukup berat pada perutnya sedangkan Peracio dan Leonidas dari Brazil terpincang pincang ketika meningggalkan lapangan. Anehnya pertandingan ulang bisa berlangsung bersih. Kalau dizaman sesudah perang dunia II Brazil mempunyai Pele, maka dalam kejuaraan dunia tahun 1938 itu Brazil punya Leonidas. Keduanya berkulit hitam. Kalau Pele dijuluki “Mutiara Hitam” Leonidas “Intan Hitam dari Hutan”. Pada waktu itu Leonidas adalah pemain dengan bayaran tertinggi. Mengenai Leonidas itu ada cerita tersendiri. Dalam pertandingan di babak pertama lawan Polandia di Strassburg. Leonidas berhasil mencetak empat gol. Lapangan Strassburg itu buruk kalau hujan, lebih lebih setelah diinjak – injak dua kali 45 menit. Diwaktu perpanjangan tenang – tenang Leonidas mencopot kedua sepatunya dan melemparkannya dengan agak demontratif ke arah pelatihnya. Tapi peraturan melarang seorang main dengan cakar ayam maka wasit Eklind dari swedia mengancam Leonidas pakai sepatu atau berhenti bermain sama sekali. Dibabak semifinal Brazil secara pahit harus menelan kekalahan, mereka dihantam Italia dengan 2-1. Menurut pengamat sepak bola, mereka kalah karena tidak memasang Leonidas. Brazil terlalu yakin akan masuk final sehinggga mereka menyimpan Leonidas untuk kesempatan itu. Dalam final Italia berhadapan dengan Hongaria 4-2 sejak itu tidak ada pertandingan World Cup selama 12 tahun.

Ganti Pakaian Di Hotel

Yang menjadi juara World Cup 1950 9Sekarang resmi dikenal dengan Jules Rimet Tropy) adalah Uruguay tetapi hampir semua orang berpendapat bahwa mereka bukan juara sejati, meskipun sebenarnya permainannya bagus. Waktu itu pertandingan diadakan di Brazil. Berbeda dengan kejuaraan tahun 1934 dan 1938 yang mengikuti sistem gugur, maka tahun 1850 itu sistem pertandingan dirubah. Dibabak pertama regu regu di bagi dalam pull enam belas negara berkualifikasi untuk putaran akhir di Brazil, semula dibagi dan diundi ke dalam empat pull untuk babak pertama. Akan tetapi setelah semua pull tersusun , tiga negara tiba tiba mengundurkan diri dan secara kebetulan satu dari pull tiga dan dua negara dari pull IV, Kebetulan Uruguay berada di pull IV dan lawannya tinggal Bolivia saja, negara dengan kesebelasan paling lemah di Amerika Selatan. Uruguay hanya bertanding sekali dan langsung masuk pull final yang dilangsungkan juga dengan cara setengan kompetisi. Pertandingan terakhir antara Uruguay dan brezil di Stadion Maracana di Rio de Jenairo ditonton oleh hampir 200.000 orang. Waktu itu ini menjadi salah satu pertandingan terbaik di dunia. Kejutan hebat terjadi pada babak penyisihan di pull II Kesebelasan AS unggul 1-0 atas Inggris. Padahal kesebelasan Inggris yang ubtuk pertama kalinya turut dalam kejuaraan dunia, datang di Brazil sebagai tim Unggul. Dalm pertandingan pertama pull II itu Inggris secara meyakinkan mengalahkan Chlii dengan 2-0 (1-0). Mak tidak mengherankan kalau pemain AS menganggap pertandingan melawan Inggris hanya pertandingan pelajaran dari guru sepakbola. Orang – orang Inggris teermasuk ratusan pekerja disebuah tambang emas di Brazil bersikap seakan akan pertandingan dengan AS suatu pertandingan exshibisi semata mata. Pertandingan berlangsung di Belo Horizonte, yang lapangannya buruk dan fasilitasnya tidak memadai. Pemain Inggris setelah memeriksa ruang ganti berbondong bondong menuju hotel terdekat untuk mengganti pakaian. Beberapa pemain AS malam sebelum pertandingan masih pergi berdnsa di sebuah bar, meski hanya minum – minuman ringan. Sejak awal Ingrris menyerang terus. Kejutan terjadi pada menit ke 73. Bahr dari rusuk kiri melepaskan tembakan yang tampak akan mudah dapat dikuasai Wllliams, Kiper Inggris. Tetapi tiba tiba senterpor AS Gaetjens (dari Haiti) menyodok maju bola menyenggol kepalanya dan melenceng diluar jangkauan Williams, sehingga akhirnya bola masuk gawang. Itu merupakan satu satunya gol hari ini. Inggris masuk kotak setelah kalah lagi 0-1 dari Spanyol. Akhirnya untuk pertama kali setelah 20 tahun Uruguay menang lagi dan Wold Cup kembali ke Montevideo.

Tahun 1954 Peraturan Ganti Total

Sistem turnamen World Cup  tahun ini sangat berbeda dengaan sebelumnya. Baik sistem pull tahun 1930 dan 1950, maupun sistem gugur tahun 1934 dan 1938 dianggap kurang memuaskan. Namun sistem yang dipakai untuk turnamen tahun 1954 yang diadakan di Swiss dianggap janggal. Enam belas negara yang berkualifikasi dimasukkan dalam empat pull. Untuk pertama kali dua kesebelasan diunggulkan di tiap pull. Pertandingan di tiap pull tidak berlangsung dengan cara setengah kompetisi maupun gugur. Kesebelasan yang diunggulkan saling bertemu serta masing masing melawan salah satu kesebelasan tidak diunggulkan. Ditiap pull hanya berlangsung empat pertandingan sedang kalau secara Round Robin seharusnya lima kali pertandingan. Ada kalanya dilangsungkan lima pertandingan di pull, yaitu bila ada dua kesebelasan yang setelah empat pertandingan memiliki jumlah angka sama. Yang dianggap kurang adil ialah bahwa regu yang diunggulkan, di pullnya bertanding dua kali. Sekali melawan regu yang sama sama diunggulkan dan sekali lagi melawan regu yang tidak diunggulkan. Demikian juga dua kesebelasan yang tidak diunggulkan. Dalam final dan di bawah guyuran hujan. Jerman Barat bertemu dengan Hongaria. Jerman Barat memenangkannya dengan 3-2. Sebetulnya Hongarialah yang lebih patut untuk menjuarai turnamen tahun 1954 itu. Tahun 1952 mereka memenangkan medali emas olimpiade Helsinki. Selama tahun 1953 dan 1954 kesebelasan Hongaria dengan pemain luar biasa, ferenc Puskas, meraja lela di Eropa. Namun Jerman mempunyai manager Sepp Herberger yang cerdik dan pandai mengatur siasat menuju final. Bahkan dibabak penyisihan mereka membiarkan dirinya dibantai oleh Hongaria. Disamping Hongaria memang agak kurang beruntung. Dibabak semi final mereka bertemu lawan keras Uruguay, sehingga beberapa orang pemain mendapat luka a.l Puskas. Hongaria menang 4-2 setelah perpanjangan waktu (2-2). Tetapi pertandinagn di perempat final, dimana mereka menundukkan Brazil 4-2, keadaannya lebih berat dan kotor. Baju seorang pemain Hongaria koyak dibetot pemain Brazil. Wasit dari Inggris sibuk memberi tendangan bebas dan peringatan, dibabak kedua pertandingan sampai harus mengusir ke luar lapangan seorang pemain Brazil, yang sebelum meninggalkan lapangan berlutut dan menagis tersedu sedu.

Pertarungan Diluar Lapangan

Swedia sebagai tuan rumah tahun 1958 berhasil mencapai babak final dan keluar sebagai Runner-Up. Hal ini bisa terjadi karena menjelang World Cup tahun 1958 itu Federasi Sepak bola Swedia memutuskan untuk memperbolehkan pemain bayaran ikut serta. Dibabak semi final pertandingan antar swedia melawan Jerman hampir batal. Waktu itu orang Jerman terkenal sangat Chauvinistis. Sebelum pertandingan dimulai Cheerleaders Swedia diperbolehkan beraksi diatas lapangan, tetapi Cheerleaders Jerman harus berlaga diatas lapangan lari. Ditribun juga terjadi keributan besar antara Dr. Pecos Bauwens, ketua persatuan sepak bola Jerman dan official Swedia yang tidak mau memberikan tempat duduk untuk para suporter Jerman tertentu. Dr. Bauwens mengancam akan menarik regu Jerman dari pertandingan kalau karcis tempat duduk yang diminta tidak diberikan. Pertandingannya sendiri berjalan lancar tanpa insiden Swedia akhirnya menang 3-1. Brazil menang 1-0 dalam final melawan Swedia. Tahun 1962 World Cup diadakan di Chilli. Brazil kembali menjadi juara. Untuk kedua kalinya mereka memenangkan juara Rimet Cup. Konon World Cup ini adalah keberhasilannya sistem 4-3-3 dan kejayaan Garincha. Difinal Brazil menundukkan Cekoslowakia dengan skor 3-1. Tahun 1966 Inggris menjadi tuan rumah dan untuk ketiga kalinya tuan rumah berhasil menjadi juara dunia. Tahun 1930 Uruguay, 1934 Italia, dan tahun 1966 Inggris. Setelah menag dibabak semi final atas portugal (2-1) Ramsey tidak meragukan lagi bahwa Inggris akan menggondol World Cup. Bahkan ketika setelah pertandingan melawan Jerman Barat berakhir seri 2-2. Waktu istirahat tim manager Alf Ramsey membaur ditengah para pemain yang duduk dirumput. Pada mereka dia berkata, “kita sudah menang. Kali ini kita pasti menggondol World Cup.” Kata itu menjadi kenyataan. Mereka menang dengan skor 4-2. George Hurst berhasil mencetak tiga gol, pada waktu itu untuk pertama kalinya dalam pertandingan final World Cup.

Jules Rimet Cup Tetap Milik Brazil

Bagi negara Eropa turnamen kejuaraan dunia tahun 1970 di Meksiko itu berat dan sulit. Pertama karena cuaca dan letak meksiko yang berada didataran hampir 3.000 m diatas permukaan laut, namun terlepas dari keadaan yang serba sulit, gelar juara yang direbut oleh Brazil adalah benar benar pantas. Brazil dengan Pele, Garrincha, Tostao dll dipimpin oleh mantan pemain Zagalo memang merupakan kesebelasan super. Karena Brazil menang untuk ketiga kalinya, mereka berhak memiliki Piala Jules Rimet untuk selamanya. Tahun 1974 World Cup diadakan di Jerman Barat. Pialanya sendiri kini disebut “The FIFA World Cup” untuk keempat kalinya kesebelasan tuan rumah yang menang. World Cup tahun 1974 itu adalah zamannya total Football, yang justru menjadi senjata kedua kesebelasan finalis. Konon cara bermain ini untuk pertama kalinya dilakukan oleh Jerman Barat. Pencetusnya ialah Franz Beckenbauer. Klub lain yang pada awalnya memakai cara total football  dengan sukses adalah Ajax dari Amsterdam. Ajax telah memenangkan piala Eropa tiga tahun berturut turut sebelum pemain terbaiknya, Johan Cruyff lari ke Barcelona. Keadaan di Argentina tempat pertandingan tahun 1978 diadakan, sebetulnya tidak begitu menguntungkan untuk berlangsungnya suatu kejuaraan dunia. Seperti tahun 1974 di Jerman Barat penjagaan keamanan sangat ketat, karena ada kekawatiran terhadap ancaman teroris setelah peristiwa pembunuhan sewaktu pesta Olimpiade tahun 1972 di Munchen. Sedangkann di argentina ada kekhawatiran lain. Sejak yunta militer berkuasa tahun 1976 ribuan orang hilang, dibunuh atau dianiaya. Namun selama kejuaraan dunia itu berlangsung, ramalan suram itu tidak menjadi kenyataan. Sebelum pertandingan banyak orang ragu apakah kesebelasan tuan rumah bisa meraih gelar juara dunia. Namun kemenangan Argentina atas Belanda di babak final memang pantas. Argentina menang 3-1 diwaktu perpanjangan setelah bermain imbang 1-1. Sebelum World Cup tahun 1978 itu di negeri Belanda memang heboh sekitar diri Cruyff. Pemain andalan itu tidak mau memperkuat kesebelasan nasionalnya. Segala bujukan dan rayuan, baik dengan kata – kata maupun dengan iming-  iming bonus besar tidak mampu membatalkan keputusannya.

Peraturan Silh Berganti

Aturan permainan kejuaraan dunia yang diadakan di Spanyol tahun 1982 diubah lagi. Karena negara peserta bertambah, makin banyak negara yang dialokasikan masuk putaran final. Mulai World Cup tahun 1982 itu 24 negara yang berkualifikasi masuk putaran akhir di spanyol. 24 Negara itu dibagi dalam 6 grup atau pull, 5 negara yang pernah menjadi juara, yaitu Italia, Jerman Barat, Brazil, Argentina dan Inggris serta tuan rumah yang diunggulkan, diundi memencar di keenam grup. Mantan juara Uruguay (1930) dan (1950), tidak masuk kualifikasi. Perlombaan dibabak pertama ini berlangsung dengan cara setengah kompetisi. Juara pertama dan kedua masing masing grup diundi masuk kedalam empat grup dibabak kedua, yang perlombaannya juga berlangsung dengan cara setengah kompetisi. Keempat juara grup masuk semi final , juara grup A melawan grup C, jaura grup B bertemu juara grup D. Akhirnya Italia keluar sebagai jaura dunia mengalahkan Jerman Barat 3-1. Sistem turnamen putaran final World Cup pada tahun 1986 di Meksiko agak lain lagi dari pada yang di Spanyol. Babak pertama tetap terdiri atas enam grup dari masing – masing empat negara, yang dengan cara setengah kompetisi menentukan urutan keunggulannya. Keenam juara dan keenam runner-up grup ditambah dengan empat negara yang menduduki tempat ketiga masuk putaran akhir yang berlangsung dengan sistem gugur. Empat juara ketiga itu diseleksi menurut jumlah angka yang diperoleh dan jumlah gol memasukkan dan kemasukan. Yang keluar sebagai juara dunia kali ini ialah Argentina yang difinal menundukkan Jerman Barat dengan skor 3-2. Pada waktu istirahat Argentina dengan penyerang virtuosnya Diego Maradona sudah unggul 2-0. Dibagian kedua Jerman Barat menyamakan kedudukan, satu gol antara lain dicetak oleh Karl-Heinz Rumenigge. Keajuaraan dunia tahun 1986 itu memang rekor terbanyak pertandingan yang ditentukan oleh perpanjangan waktu, yaitu lima. Dari lima pertandingan ini, empat harus menentukan pemenang lewat tendangan pinalty.

Sumber Intisari No: 323 Edisi Juni 1990