JALAN PINTAS TERMAHAL DI DUNIA

Terusan Panama termasuk salah satu karya bangunan termahal di dunia. Seberapa besar jasa kanal yang menguras sekitar AS $ 387 milliar serta nyawa ribuan manusia itu? Inilah kisah suatu bencana yang berubah menjadi karya dunia yang mengagumkan dan sarat dengan kenekatan, korupsi  serta kebangkrutan.

Benua Amerika yang panjangnya 15.000 Km itu menjadi penghalang yang sangat mengganggu bagi kapal laut yang hendak menyeberang dari samudra Atlantik menuju samudra Pasifik. Kapal itu mesti ngalang melewati Cape Horn di ujung selatan benua. Itu dulu perjalanan memuakkan memutari Cape Horn itu mula mula diawali ketika terjadi perburuan emas besar besaran pada 1848 di California, juga ketika AS mencaplok daerah daerah pantai Pacifik. Bayangkan sebuah kapal layar cepat dari New York dipantai Timur AS paling tidak butuh waktu 3 bulan untuk sampai di San Francisco di pesisir Barat AS. Apalagi kalau pakai kendaraan darat. Orang patut bersukur setelah semua kendala itu teratasi dengan adanya Terusan Panama yang membelah tanah genting sepanjang sekitar 60 Km. Sebuah daratan terpendek di Panama yang memisahkan kedua samudra raya itu. Penakluk Spanyol, Vasco Nunes de Balboa, orang Eropa pertama yang melintasi tanah genting itu pada 1513. Ia melaporkan dengan antusias betapa pendeknya daerah yang bisa dijadikan “Jembatan Daratan” itu. Temuan itu diajukan pada Raja Spanyol, Philipp II (1556 – 1598) dan menganjurkan kalau daratan itu bisa dimanfaatkan sebagai kanal. Namun Raja menolak dengan 2 alasan Pertama dalam menghadapai pesaing Inggris dan Portugis penghalang itu justru diperlukan. Kedua kalau tuhan menghendaki adanya jalan pintas tentunya sudah dibuatnya. Pembangunan jalur kereta api melewati tanah genting itu di kemudian hari lumayan memecahkan masalah. Diresmikan pada 1955, pembangunan jalur KA itu tak sedikit meminta korban paling tidak 6.000 nyawa pekerja pemasang rel melayang karena demam kuning dan malaria. Sejak itu penumpang dan muatan ringan bisa melintas dari pantai timur ke pantai barat AS lewat dengan dua kali ganti kendaraan yang sangat menyingkat waktu perjalanan. Namun soal pengiriman barang dalam jumlah maupun ukuran yang besar, seperti mesin atau kapal perang belum teratasi. Rencana pembuatan kanal mulai dirasakan mendesak. Selain juga bagi negara pemilik Panama, Republik Kolombia yang masih hijau itu, konsesi dari setiap peminat akan sangat membantu keuangan mereka yang seret.  Saat itu mata dunia sedang terarah pada keberhasilan kanal lain, Terusan Suez pada tahun 1854 Vicomte de Lesseps, telah membuktikan pada raja muda Mesir bisa mewujudkan pembangunan kanal Suez antara Afrika dan Asia, yang besar manfaatnya, Lesseps sendiri kemudian juga memperoleh hak konsesinya. Apa yang membawa Lesseps sampai masuk ke bisnis ini? Padahal dia bukan arsitek, bukan Insinyur ataupun manager, tapi Cuma seorang diplomat yang pnsiun lebih awal, dan misinya cuma sejauh menjadi duta besar di Madrid. Jangna salah dia ahli mempromosikan dii yang sangat bebakat dalam membuat proyek. Usahanya itu bisa berjalan mulus karena saat 4 tahun menjabat konsul di Kairo dia punya hubungan baik dengan negara itu. Berbekal konsesi Khedive, raja Muda Mesir itu, pada 1855 Lesseps mengadakan pertemuan di Paris dengan mengundang para insinyur Eropa yang terkenal. Ia berhasil mengajak mereka mendukung rencananya. Sedangkan untuk keuangannya dengan berani ia mengajak warga Perancis menandatangani kredit pinjaman pembuatan kanal. Ini semua berhasil dia peroleh dengan mulus dan alam juga seakan tidak menghalangi rencananya seperti kemudian yang dialami di Panama. Dengan mudah ia bisa mengerahkan 1.600 ekor unta untuk mengangkut air minum bagi 25.000 pekerja. Juga ketika suatu saat sebagian pekerjanya banyak yang mengundurkan diri akibat wabah kolera, Lesseps mengangapnya hanya pukulan sementara. Peresmian terusan Suez pada 1869 dirayakan dengan pesta besar – besaran. Komponis terkenal Verdi sampai khusus menciptakan Aida untuk merayakan ini. Sementara Lesseps dielu – elukan sebagai orang Perancis kedua terbesar abad ini setelah Napoleon.

Tol Termahal dan Termurah

Sejak dibuka pada 15 Agustus 1914 sudah sekitar 700.000 kapal melewati Terusan Panama. Dewasa ini diperkirakan sehari sekitar 40 kapal yang melintasi (berarti setahun sekitar 14.000 kapal) Biaya melintas sesai dengan bobot kapal. Untuk kapal bermuatan setiap tonnya $ 2.57 (Rp. 20.560) sedangkan kapal kosong $ 2.04 (Rp. 16.320) sebagai contoh unuk sebuah kapal kontainer bermuatan yang berukuran sedang (panjang 170 m dan lebar 27 m) dikenakan biaya sekitar DM 56.000 (Rp.274,4 Juta). Disamping itu ada ongkos tambahan sekitar DM 12.000 (Rp. 58,85 Juta) untuk biaya kapal penarik dan petugas pengikat kapal. Kapal pembayar termahal selama ini adalah “Crown Princess” yang lewat pada bulan Mei 1993 dengan membayar sekitar Rp. 1,1 milliar!. Sedangkan pengguna kanal termurah adalah Richard Halliburton, Cuma $ 36 sen. Ketika dia berenang dikanal itu tahun 1928. Uang masuk kanal ini setiap tahunnya sekitar $ 500 juta (Rp. 4 Trilliun)

12 Delegasi Menentang

Tiga hari setelah seremoni besar – besaran itu, Lesseps merayakan ulang tahun yang ke 64, dan 4 hari kemudian dia mengucapkan janji pernikahannya yang kedua di altar gereja dengan seorang gadis 20 tahun. Seharusnya Lesseps berpuas diri dengan penghargaan yang dia peroleh. Namun rupanya  dia cuma bertahan selama 10 tahun dan mulai bosan. Tahun 1879 Lesseps kembali ingin terlibat dalam suatu proyek lagi, seorang spekulan Perancis, Lucien Wyse memperoleh konsesi di Kolombia untuk membuat kanal melintasi Panama. Untuk ia mengundang para ahli geografi di Paris yang diketuai Ferdinand Vicomte de Lesseps untuk melakukan kongres internasional, yang akan menilai apa yang bisa dilakukan dengan rencana itu. Wyse berpendapat tanah genting itu bisa dekepras sampai setinggi permukaan laut, selain dengan menggunakan pintu – pintu dam. Lesseps jengkel mendengar itu karena kanal Sueznya toh berhasil tanpa pintu dam. Lesseps lupa kalau keadaan daerahnya berbeda. Ini bisa dilakukan karena titik tertinggi tanah yang harus digali di Suez hanya 16 meter diatas permukaan laut. Sedangkan di Panama pada bagian punggung bukit yang memanjang sejauh 8 Km tingginya lebih dari  50m, bahkan memncapai lebih dari 102 m di Cerro Culebra itu harus disingkirkan dan digali sampai di bawah permukaan laut. Sesuatu yang selama ini belum pernah dilakukan dalam sejarah manusia. Dasar semangat Lesseps adalah “Kanal Panama akan dibangun dengan masalah dan keperluan yang jauh lebih sedikit dari pada yang dihadapinya di saat membangun Terusan Suez”!. Para ahli dari negara lain merasa keberatan karena mereka belum tahu persis apa yang harus dilakukan untuk memulai proyek itu. Namun ketika sebagian besar dari mereka kebetulan tidak berada di ruangan, Lesseps buru – buru melakukan pemungutan suara antar para ahli perancis itu, hanya 12 delegasi yang menentangnya dan ini pun akhirnya kalah suara. Orang oarang Perancis itu mendesak agar Lesseps sendiri memimpin pembanguna kanal itu. Tapi isterinya keberatan dengan keputusan itu, juga Charles putranya yang berusia 39 tahun dari perkawinan pertamanya, yang juga membantunya dalam proyek Suez. Tapi Lesseps tak peduli dan tak seorang pun bisa menghalanginya. Karena sudah berusia 73 tahun, Lesseps merasa proyek ini tidak boleh sampai terbengkalai nantinya, bisa semua batal! Rasa optimis yang berlebihan membuat Leseps tampaknya semakin jauh dari realitas. Bahwa bank – bank menolak memberinya kredit, Lesseps sama sekali tidak kehilangan akal. Dia mengajak warga Perancis untuk kembali membantunya menandatangani kredit pinjaman seperti ketika membangun Terusan Suez. Saat keuangan masuk begitu seret , Lesseps menyempatkan diri lagi untuk menengok tanah genting Panama itu guna membuktikan desas – desus yang menyatakan keadaan iklim di daerah itu mengerikan. Dengan ambisi menggebu dia berangkat bersama isteri, ditemani sekelompok panitia, termasuk beberapa tenaga ahli. Lesseps dan rombongan senantiasa diterima dan disambut hangat oleh penduduk sekitar yang menaruh harapan besar padanya.

FERDINAND VICOMTE de LESSEPS

Ferdinand Vicomte de Lessep tokoh pembuat terusan Suez lahir tanggal 19 Nopember 1805 di Versailes, Perancis dari keluarga yang terkenal karena pengabdiannya pada negara. Tah heran kalau Ferdinand disekolahkan dengan biaya negara. Selepas pendidikan di usia18 tahun ia belajar bahasa selama dua tahun dalam rangka karier diplomatiknya. Disaat Perancis sedang giat melakukan ekspansi ke daerah daerah afrika Utara de Lesseps awalnya ditemapatkan di Lisbon, kemudian Tunisia lalu Aljazair. Dari Aljazair ia ditempatkan sebagai konsul di Mesir dari tahun 1833 – 1837. Disana dia banyak belajar pengetahuan bahasa maupun dialeknya.Kemudian dia ditunjuk sebagai duta besar di Madrid. Setelah itu karier politiknya berantakan akibat banyaknya intrik. Dia kemudian memilih menjadi petani. Untuk mengrahkan Laut Tengah ke Laut Merah, memang sudah menjadi bahan pemikiran sejak zaman pemerintahan Raja Ramses II. Kaisar Napoleon Bonaprte sudah punya rencana untuk membangun kanal bagi kapal – kapal yang akan keluar masuk ke laut lepas, tapi tak seorangpun yang bisa mewujdkannya. Baru tahun 1854 Said Pasha Khedive ( Raja Muda) Mesir mempertimbangkan kemungkinan untuk membangun kanal. Pasha sudah mengenal Lesseps dengan baik ketika ia bertugas di Mesir dulu dan merasa temannya mampu membangun kanal itu. Ferdinand De Lesseps memang berhasil melakukannya. Terusan Suez resmi dibuka 17 Nopember 1869 dengan pesta besar. Ferdinand de Lesseps di puja sebagai pahlawan oleh seluruh negara Eropa. Prancis bahkan sampai memberikannya kehormatan tertinggi  dengan mengangkatnya sebagai anggota french Academy. 12 tahun kemudian di usia 73 de Lesseps kembali menarik perhatian dunia dengan usahanya membangun Terusan Panama, jalan tembus yang menghubungkan samudera Atlatik dan Pasifik. Namum setelah 10 tahun proyek itu tidak lagi bisa diteruskan. 10.000 orang Perancis merasa ditipunya, 22.000 pekerja tewas akibat demam kuning, salah satu bagian kanal runtuh akibat longsoran tanah liat di musim penghujan. Akibatnya tahun 1888 Proyek pembuatan Terusan Panama pimpinna de Lesseps dinyatakan gagal. De Lesseps diseret ke pengadilan karena dituduh menyelewengkan dana dari masyarakat dan dihukum penjara 5 tahun. Lesseps melewati sisa hidupnya selama 6  tahun diatas kursi malas, kesehataan tubuhnya merosot drastis dan mentalnya terganggu. Bacaan kesukaannya hanya surat kabar terbitan sebelum tahun 1888, sampai ia meninggal 7 Desember 1894. Hari – hari terakhirnya hanya dipenuhi dengan kenangan hari bersejarah, prosesi kapal – kapal yang berlayar pada hari pembukaan Terusan Suez.

Wabah Penyakit Dan Longsor

Pada 1 Januari 1880 secara simbolis Lesseps menancapkan pangkur pada tanah lempung tanda dimulainya pembangunan kanal yang diperkirakan akan rampung dalam waktu 8 tahun!. Dengan rasa kemenangan besar, Lesseps pulang, bertepatan dengan dimulainya musim penghujan. Dari 80.000 warga perancis terkumpul uang satu milliar Franc, dua kali lebih besar dari biaya pembuatan Terusan Suez. Sementara Lesseps tetap berada di Perancis, untuk terus mencari dana, Charles de Lesseps mengambil alih pimpinan pembangunan Kanal itu. Batas daerah pembangunan mulai dilakukan dan hutan dibabat. Tahun 1882 mulai didatangkan mesin keruk berikut rel, lori dan lokomotif. Juga 3.000. Insinyur dan ahli Teknik Perancis serta 20.000 pekerja yang sebagian besar orang kulit hitam dari Karibia terlibat dalam proyek ini. Namun saat tiba musim penghujan, wabah demam kuning datang menyerang. Selain rasa menggigil, penderita juga muntah darah! Dalam beberapa hari, satu, dua, tiga orang tewas (waktu itu belum ada yang tahu kalau penyakit ini akibat virus yang ditularkan lewat gigitan nyamuk). Tanpa disadari ribuan orang menjadi korban. Namun mereka masih saja mendatangkan tenaga baru berbekal rasa patriotisme yang tinggi dan kemauan yang kuat, seperti yang diperlihatkan saat Perancis menaklukan Jerman tahun 1871. Itulah memang yang ingin diperlihatkan Prancis pada dunia. Begitu juga kini yang mereka lakukan  pada Panama yang praktis sudah dikuasai oleh Perancis dan Lesseps. Ditengah malapetaka demam kuning mereka berhasil menembus punggung bukit Culebra setinggi 100 m, sepanjang 1,6 km dengan kedalaman lebih dari 100 m. Lesseps sendiri yang mengarahkan dibuatnya sebuah dinding jurang dengan sisi tegak lurus, pekerjaan yang bukan main sulit!. Namun tidak seorangpun yang menyangka batu cadas itu berisi lempung dan bagian atasnya ditutupi lapisan tanah lempung sampai setebal 18m. Akibatnya saat tiba musim penghujan, tanah lempung itu tertekan kebawah dan terjadilah longsor, dan mengubur mesin keruk, rel beserta lokomotif mereka. Sia – sialah pekerjaan yang sudah mereka lakukan selama ber bulan – bulan. Tahun 1885 setelah berjuang menghadapi wabah dan lumpur, mulai tampak bahwa pembangunan kanal jelas tidak mungkin diteruskan. Kecuali dengan sistem Dam, ide yang pernah menjadi tertawaan Lesseps itu. Sementara itu di Prancis Lesseps yang sudah berusia 80 tahun, selama dua minggu penuh tak jemu –  jemu mengeluarkan laporan tulisan, juga ceramah yang berapi – api mengenai kemajuan terakhir dari pembangunan kanal Panama untuk Pers Perancis. Tidak segan – segan dia memberi sejumlah besar  uang  buat para wartawan, penerbit, konsultan instalasi dan pejabat pemerintah. Sampai tahun 1887 akhirnya para insinyur menyatakan pada Lesseps, mereka menyerah dengan ide kanal tanpa dam. Paling tidak mereka perlu mamakai dam sebagai jalan pemecahan sementara, untuk membagi dua pengalian. Untuk itu Lesseps menyatakan kalau  dia perlu waktu 3 tahun dan uang 600 juta Frach yang bisa diperoleh dengan mengadakan undian. Awalnya panitia negara yang mengeluarkan undian ini tidak setuju, Namun dalam pemungutan suara yang kedua mereka setuju juga kerena masing – masing anggota itu disogok 300.000 Franch. Begitulah yang kemudian terbongkar oleh Pers. Ternyata hasil undian yang diperoleh kurang dari biaya pengeluaran pengadaan undian itu sendiri. Kebobrokan dibalik pembangunan kanal Panama mulai terbongkar. Tahun 1888 Lesseps dinyatakan bangkrut.  10.000 warga perancis menuntut uang mereka, apalagi ketika seorang menteri terang – terangan mengaku telah disogok oleh Lesseps, Lesseps dan putranya harus menanggung akibatnya, dijatuhi hukuman penjara 5 tahun.

Wisata Terusan Panama

Berbeda dengan Terusan Suez, Terusan Panama membelah dataran tinggi, sehinggga kapal yang melewati terusan ini seperti naik turun gunung. Perjalanan melewati Terusan Panama sepanjang 82 Km ini memakan waktu sekitar 18 – 20 jam. Ini termasuk 8 – 10 jam melintasi tangga – tangga dam yang berfungsi mengangkat dan menurunkan kapal selama proses penyeberangan. Ada 3  tangga lok, satu yang menghadap Atlantik, lok Gatun, 2 menghadap Pasifik, Lok Pedro Miguel dan Lok Miraflores. Ketiga lok atau dam ini bisa dibuka dan ditutup dengan tenaga listrik. Bila kapal sudah masuk lok, pintu akan tertutup, selanjutnya pintu depan dibuka, hingga air masuk dan kapat terangkat keatas. Begitu berturut – turut sampai 3 kali hingga kapal sampai pada permukaan telaga. Begitu pula sebaliknya kalau mau turun dari telaga. Saat melewati lok, mesin kapal dimatikan dan kapal ditarik 4 kereta bertenaga raksasa yang bergerak diatas rel dari sisi kiri dan kanannya. Ini untuk meluruskan laju kapal sehingga tidak sampai membentur diding lok. Antar lok Gatun dan lok Pedro Miguel membentang danau buatan, Gatun Lake, seluas sekitar 320 km persegi. Sekitar 52 milliar galon air yang digunakan dalam proses kerja tangga – tangga dam terusan dipasok dari danau buatan ini. Jika penyeberangan dilakukan dari Atlantik ke Pasifik, pertama – tama kapal memasuki lok Gatun dengan 3 tangga dam yang akan menaikkannya ke permukaan Gatun Lake pada ketinggian sekitar 26 m. Selanjutnya dari Gatun Lake kapal menyusuri jalur Gillliard (Culebra). Semacam sungai buatan yang berdinding tebing tebing perbukitan sepanjang sekitar 20 Km, sebelum akhirnya mencapai Lok Pedro Miguel dengan 1 tangga dam. Dari tangga dam ini kapal akan diturunkan sekitar 10 meter untuk mencapai danau kecil buatan Miraflores Lake. Penurunan terakhir untuk mencapai permukaan laut di samudra Pasifik dilakukan di lok Miraflores yang terdiri atas 2 tangga dam. Kebalikan dari  tahapan perjalanan ini akan dilalui oleh kapal – kapal yang menyeberang dari Pasifik ke Atlantik. Perjalanan menyusuri Terusan Panama merupakan atraksi wisata yang menarik. Disamping mengamati kapal – kapal dengan bobot mati  antara 400 – 500 ribu ton, dinaik – turunkan dengan permainan air, wisatawan juga dapat menyaksikan keindahan flora dan fauna belantara Panama. Kampung – kampung serta kota – kota Penting Panama seperti Cristobal, Colon, Balboa juga bisa disaksikan sepanjang Terusan. Bahkan Panama City Terletak tidak jauh dari The Bridge of America yang merupakan pintu gerbang memasuki terusan dari samudra Pasifik. Cara terbaik untuk menyaksikan semua ini melaui wisata kapal pesiar. Selama penyeberangan kendali kapal diambil alih oleh petugas dari Badan Pengelola Terusan Panama, termasuk memberikan informasi yang perlu diketahui tentang terusan ini.

Dikontrak Amerika

Kanal Panama ditinggal begitu saja sebelum As mulai tertarik pada kanal itu. Awalnya tahun 1898 dalam perang menghadapai Spanyol kapal penjelajah AS “Oregon” dalam perjalannya dari pantai barat ke pantai timur AS, seperti biasanya harus memutari  Cape Horn selama tiga bulan. Mulanya pemerintah Perancis menwarkan harga terlalu tinggi untuk reruntuhan kanal itu. Barulah ketika Perancis menurunkan harganya menjadi AS $ 40 juta, Washington menerima dan mengajukan kontrak pada kolombia. Dalam kontrak itu AS dinyatakan mempunyai hak mengatur kedua sisi wilayah kanal itu selama 100 tahun. Untuk itu AS akan membayar uang sewa AS $ 10 juta setiap tahunnya. Namun Parlemen Kolombia memperdebatkan hal itu selama 1,5 tahun, sampai presiden Theodore Rosevelt mengirimkan telegram ancaman, yang mendesak agar masalah ini diselesaiakan secepatnya. Bahkan dalam pidatonya di Washington, Rosevelt sampai melontarkan ucapan keras, “Makluk menjengkelkan ini memang harus diberi pelajaran!” . Maka bukan kebetulan juga ketika kemudian meletus pemberontakan di daerah propinsi Kolombia itu AS ikut membantunya. Panama menyatakan keinginan untuk memerdekakan diri pada 1903 dan mengambil uang AS $ 10 Juta itu sebagai uang kas negara. Kalau berhasil memperoleh kedaulatan penuh mereka mengizinkan AS tetap memegang zone disekitar kanal. Ketika AS mulai membangun kanal itu tahun 1904 hal pertama yang mereka lakukan adalah membasmi demam kuning. Berdsarkan penelitian tim Peneliti Angkatan Perang AS (1900), dengan mengorbankan banyak nyawa rekannya, mereka berhasil menemukan biang keladi penyebab demam kuning, yaitu nyamuk. Jadi walau harus mengeluarkan biaya mahal, tindakan yang harus mereka lakukan sudah jelas, yaitu mengeringkan rawa – rawa, menutupi lubang lubang air, talang air dijaga agar selalu kering dan semua dataran berair yang ada disemprot dengan bensin. Hasilnya selama 10 tahun pembanguna kanal dari 42.000 pekerja, terhitung 2.000 orang yang tewas. Ini pun lebih banyak karena kecelakaan dan malaria dari pada demam kuning. Jelas sudah biaya untuk mewujudkan ide Lesseps membuat kanal setinggi permukaan laut itu tidak mungkin. Karena membelah dataran tinggi, kapal yang lewat itu seperti naik turun gunung. Untuk itu kapal harus melewati tiga kolam dam. Dimana kapal diangkat sampai setinggi 26 m diatas permukaan laut dan pada dam terakhir kembali diturunkan. Jalan pintas sepanjang 82 km dilewati hanya dalam waktu 8 jam.

14.000 Kapal Pertahun

Pada 15 Agustus 1914 kanal Panam diresmikan. Berbeda dengan Terusan Suez, peresmian itu tanpa tanda yang berarti karena waktu itu dunia sedang diambang PD I. Sejak itu kanal Panama mulai berfungsi. Dataran tinggi Cristobal merupakan gerbang pelabuhan diwilayah Samudra Atlantik, sedangkan Balboa merupakan kota pelabuhan di Pasifik. Kanal berteknologi tinggi yang menjadi salah satu dari dua jalur perkapalan  penting di dunia  itu setiap tahunnya dilewati sekitar 14.000 kapal. Namun Terusan Panama yang sudah sekian tahun ini masih saja menjadi sasaran ketidakpuasan, terutama berkaitan dengan masalah ketiga damnya. Masing masing dam panjangnya 305 m, lebar 33,5 m, suatu ukuran raksasa bagi kebutuhan ditahun 1914. Tapi ini sudah tidak cocok lagi bagi kapal – kapal tangker raksasa maupun kapal – kapal induk atau pengangkut terbesar masa kini. Kapal Pasiar “Queen elizabeth 2” misalnya saat melewati kanal, dikedua sisi badan kapal itu masing masing hanya tinggal selisih 75 cm dari dinding dam. Sedangkan kapal tempur AS “New Jersey” hanya menyisakan ruang tidak sampai 25 cm dikedua sisinya. Tentu saja ini membuat kecut para pemandu kapal yang harus berada diatas kapal saat pengontrol lokomotif kecil yang menarik kapal – kapal itu memasuki dam lewat rel baja. Bila meleset sesenti saja bisa gawat!. Apakah dam dam itu perlu diperbesar sampai jurang Culebra yang pernah memusnahkan impian Lesseps? Karena saat sebuah kapal besar sedang menyusur jalur pintas itu, jalur yang lain bisa digunakan hanya satu, sehingga terpaksa harus menunggu lama. Pertumbuhan lalu lintas kapal lewat Panama memang sejak lama tidak lagi menunjukkan pertumbuhan yang berarti. Masalahnya terutama orang masih belum tahu bagaimana nasib kanal itu ditahun 2000 nanti, setelah dikembalikan pada Panama , yaitu setelah ditutupnya kontrak oleh Presiden Carter pada tahun 1977. Akankah standart  teknik itu bisa dipertahankan dan akankah investasi besar – besaran untuk perawatan dan memoderenisasainya masih diteruskan.

Sumber : Intisari Edisi No: 427 Februari 1999