WESTERLING TENTANG WESTERLING

Lima tahun yang lalu, di Amsterdam terbit buku Westerling de Eenling, Westerling si Tunggal keluaran Telebook, B.V Buku itu sebetulnya tulisan seorang wartawan Prancis, Dominique Venner, yang tadinya berjudul  Westerling, Guerilla Story. Terjemahannya ke bahasa Belanda diberi tambahan dan catatan oleh Westerling. Jelas ini bukan buku sejarah, tetapi kisah petualangan versi Westerling sendiri. Sudut pandangnya sudah tentu dari pihak ‘sana’. Mungkin menarik juga untuk melihat lewat kaca mata pria yang terkenal kekejamannya itu, yang meninggal 26 November ’87.

Pada malam tanggal 10 Desember 1946, lima hari setibanya di Sulawesi, Kapten Raymond Westerling mulai melakukan tindakan yang disebutkannya aksi pembersihan. Sasaran Komanan Pasukan Baret Hijau itu ialah wilayah disebelah selatan jalan raya ke Maros yang berbatasan dengan bagian Timur Makasar (Ujung Pandang). Opersi itu direncanakan dengan amat seksama. Sebelumnya Westerling mengirimkan empat orang mata – mata yang tidak saling mengenal dan mengira bahwa mereka bekerja sendiri, untuk membaurkan diri diantara rakyat selama beberapa hari. Tugas mereka dipermudah karena banyak gelandangan dari pedalaman yang membanjiri  daerah kota Makasar. Westerling ingin tahu identitas para pemimpin dan anggota utama Organisasi badan – badan Perjuangan, tempat menyimpan senjata, sistem penjagaan pengamanan dan penempatan penjagaan atau pengintaian. Setelah mempunyai data lengkap, Westeling membandingkan dan memadukan laporan intel dari pelbagai instansi di Makasar  dengan info anak buahnya sendiri. Ia membuat daftar hitam dari 74 orang anggota badan perjuangan dan juga dari perampok.

Dibunuh Langsung

Tanggal 11 Desember dinyatakan keadaan keadaan perang untuk wilayah Sulsel oleh Gubernur Jenderal Van Mook. Antara pukul 03.00 – 04.30 satuan satuan komando, meninggalkan Asrama Matuangin secara diam diam ke pelbagai arah, tanpa terlihat orang, seperti kucing hitam di kegelapan malam. Jalan jalan ke luar kampung dijaga oleh bren – bren (senapan mesin ringan) yang siap memuntahkan peluru mautnya jika ada yang melarikan diri. Pasukan lain menyerbu ke dalam kampung, lalu menggiring mereka ke suatu titik pusat. Orang sakit parah, orang tua dan perempuan yang sedang menyusui dikecualikan. Pusat pengumpulan ialah sisi barat Laut Kampung Borong. Ditempat itu perempuan dan laki – laki dipisahkan. Westerling datang disertai dua orang juru bahasa yang tahu benar dialek setempat dan seorang penghulu. Para pria diatur duduk ditanah dengan bersaf sekitar 50 atau 60 orang, membentuk suatu segi empat tanpa gerak, dibawah ancaman empat steling senapan mesin. Dengan menyilangkan lengan di dada, Westerling mondar – mandir didepan barisan terdepan mencari mata matanya yang berbaur dalam massa rakyat itu. Ada seorang lagi staf terdepan, seorang lagi dibarisan kedua. Sementara itu bagian lain dari Pasukan Komando yang tidak ikut serta dalam penjagaan, melakukan penggeledahan di kampung mencari senjata, mesiu dan dokumen – dokumen. Pada aksi pertama itu ada 46 orang tertangkap. Dari 74 orang yang tercantum dalam daftar hitam Westerling dapat dikenali 35 orang. Westerling berbicara kepada rakyat lewat seorang penerjemah. Ia menyebutkan deretan kejahatan yang dilakukan oleh orang – orang itu. Kemudian ia menyuruh menghadap para pemimpin laskar. “Orang itu telah dijatuhi hukuman mati dan segera akan ditembak.” Dalam jarak 30 meter dari kumpulan masaa itu sudah menunggu suatu regu tembak. Aba – aba diberikan, disusul oleh salvo tembakan senapan. Terlihat ada gerak sejenak pada rakayat yang berkumpul, tetapi tak ada yang mengeluarakan suara. Selanjutnya semua yang tertangkap dihukum tembak, Cuma sebelas yang luput dari maut untuk diperiksa lebih lanjut.

Tiga Kali Dalam Seminggu

Setelah semua selesai rakyat dipaksa bersumpah agar sejak hari ini mereka menjauhkan diri dari para pejuang. Dalam waktu enam hari  dalakukan tiga kali aksi serupa westerling segera mendirikan apa yang dinamakannya sendiri “ Mahkamah militer rakyat” artinya orang biasa ikut menunjuk dan mengadili apa yang disebut sebagai ‘anasir Jahat’. Dengan cara pengadilan ala Westerling itu kampung kampung sekitar Makasar dalam radius 6 Km dibersihkan, kepala – kepala kampung digantikan dengan orang orang yang mau mengikuti perintahnya. Kemudian Westerling mulai beroperasi didalam kota Makasar sendiri. Pada waktu fajar menyingsing Westerling mulai dengan pembersihan Polisi (NIT). Pada waktu yang bersamaan komandonya mengadakan operasi serentak dibeberapa tempat. Enam diantara yang ada di daftar hitam ditangkap. Pada pukul 09.00 para tertuduh itu dihukum mati dihadapan seluruh kesatuan Polisi Makasar.

Cari Informasi Di Societeit

Dimakasar ada Societeit satu satunya tempat bertemunya masyarakat kulit putih, pengusaha perkebunan, pedagang pejabat dan perwira tentara Belanda, beberapa orang pedagang Indonesia dan Cina. Sebenarnya Westerling lebih suka makan di tangsi atau disalah sebuah restoran Cina dibagian kota yang dihuni penduduk pribumi tetapi Societeit ini merupakan sumber informasi baginya. Salah seorang sumber informasinya manganjurkan ia memperhatikan Moetalib seorang yang tampaknya terpandang. Sebelum penddudukan Jepang  ia mempunya hubungan bisnis dengan orang – oarang Belanda Makasar. Setelah perang ia memanfaatkan hubungan terjalin kembali untuk mencari informasi yang diteruskan kepada kaum pejuang. Berkat dia para pemuda bersenjata mengetahui sebelumnya bila ada operasi  – operasi militer Belanda. Informasi – informasi yang diperolehnya memungkinkan para pejuang melakukan pelbagai penyergapan terhadap beberapa bagian tentara Belanda, diantaranya yang mengakibatkan tewasnya Mayor Le Roy tanggal 5 Oktober 1946. Moetalib menjadi mata karena keyakinanya. Westerling memutuskan untuk tidak menangkapnya dan mencoba agar dia “berbalik arah”. Moetalib didatangi langsung di Societeit. “Moetalib saya tahu semuanya. Saya masih memberkan kesempatan. Hanya sekali ini saja saya tidak mau melihat mukamu lagi.” Lawan bicaranya menjadi pucat pasi . Westerling merasa puas karena Moetalib tidak memperlihatkan diri lagi di rumah bola itu. Tetapi seminggu kemudian ia mendengar kabar bahwa Moetalib muncul kembali, tetapi hanya pagi hari, pada waktu Westerling tidak hadir. Keesokan harinya dengan gaya acuh tak acuh Westerling menuju rumah bola lebih pagi dari biasanya. Ia melihat Moetalib duduk – duduk dengan beberapa kawannya disekitar sebuah meja. Ia menegurnya, “ masih ingat kau apa yang aku katakan tempo hari?” wajah orang itu pucat kelabu. Tanpa mengatakan sesuatu Westerling mengeluarkan Colt 32-nya, lalu menembak kepala korban. Para saksi mata menjerit ngeri dan jeritan itu bergema diseluruh masyarakat Eropa di kota Makasar. Pembunuh merupakan gelar yang paling mendingan yang dilontarkan ke alamat Westerling. Namun ia tak peduli.

Main Sandiwara

Permualan Januari 1947 Westerling dan anak buahnya memasuki sebuah kampung yang letaknya 120 km sebelah Timur Laut Makasar. Daerah ini merupakan basis dari suatu kekuatan bersenjata yang sangat aktif. Lain dari biasanya, kali ini ia tidak mengirimkan mata – mata terlebih dahulu, karena tidak mungkin mengharapkan penduduk kampung membuka mulut untuk menunjuk orang. Setelah mengepung kampung itu, Westerling mengumpulkan penduduk menjadi dua kelompok, pria disisi satu, disisi lainnya wanita dan anak – anak. Dari golongan laki laki ditunjuk 4 orang petani yang tampaknya cukup terpanjang. Westerling membawa mereka ke sebuah gubuk untuk berbicara dengan mereka tanpa disaksikan orang lain. “Sebab kalian tidak mau melaporkan kaum pengacau saya terpaksa menembak mati kala kalian” tukasnya secara langsung. Orang – orang terancam itu berlutut. Agak kurang keras nadanya ia melanjutkan: saya masih memberikan kesempatan untuk menyelamatkan jiwa kalian. Saya tahu mengapa kalian menutup mulut. Kalian takut akan pembalasan mereka. Tapi saya tidak meyalahkan kalian. Bagaimana juga kalian bisa membantu saya tanpa mengatakan sesuatu.” Sejurus kemudian Westerling keluar dari gubuk itu dengan muka garang. Keempat tawanan didorong ke arah regu tembak. Seperti biasa ia mengucapkan pidato singkatnya lalu menambahkan : “Keempat orang ini akan ditembak mati. 4 orang lagi akan menyusul dan kami akan meneruskan sampai kalian menunjukkan hidung para teroris yang bersembunyi di antara kalian.” Orang pertama dihadapkan depan regu tembak. Aba – aba terdengar disusul oleh bunyi tembakan orang itu jatuh tergolek. Penduduk tampaknya terperanjat, tetapi tak ada seorangpun yang bersuara. Lalu orang kedua dihadapkan ke muka moncong penyebar maut itu. Masih juga  belum ada reaksi penembakan ketiga dilaksanakan. Penduduk desa saling berpandangan lalu berbisik. Westerling memberikan aba – aba agar penembakan keempat dilaksanakn. Pada saat itu seorang penduduk lanjut usia berdiri tegak. “ Apakah kita membiarkan orang – orang kita ditembak mati untuk melindungi penjahat – penjahat dari luar?” serunya dengan lantang. Tiba – tiba terjadi perkelahian. Penduduk desa itu menyergap sekitar dua puluh orang laki – laki, lau membawa tangkapan mereka kepada Westerling. Westerling berhasil mengenali empat pemimpin laskar diantara mereka. Mereka segera ditembak mati. Yang lainnya dibelenggu untuk di bawa ke Makasar. Setelah itu si Kapten berpaling kepada ketiga petani  yang tergeletak ditanah tadi. “Bangun” perintahnya. Dengan terperanjat penduduk melihat ketiga mayat itu berjalan ke arah mereka.

 

Westerling si Petualang

Westerling dilahirkan di Istambul Turki pada tanggal 31 Agustus 1919 dari keluarga Belanda yang sudah tiga generasi menetap dinegeri itu. Ayahnya seorang pedagang barang antik, Ibunya wanita Yunani. Tahun 1941 waktu perang berkecamuk di benua Eropa Westerling mendaftarkan diri pada konsul Jendral Belanda.Untuk mencapai daerah sekutu dan Turki yang netral, ia bergabung dengan suatu kesatuan Australia di gurun Ismalia, Mesir. Dua buklan kemudian ia sampai di Haligax, Kanada. Ia harus melapor pada Tangsi Princess Juliana di Strarford, Ontario. Disitu Westerling baru berkenalan dengan bahasa nenek moyangnya. Setelah menerima pendidikan dasar militer, Ia akhirnya dikirim ke Inggris untuk bergabung dengan Princes Irene Brigade di Wolverhampton. Kemudian mendaftarkan diri untuk pendidikan Komando. Permulaan September 1942 ia memasuki Basic Komando Trining Centre di Achnacarry, Skotlandia. Bulan Desember 1943 Troop 2 yang terdiri atas orang – orang Belanda dikirim ke India dan direncanakan untuk dioperasikan di Birma. Ternyata rencana itu batal, sebaliknya mereka mendapat latihan perang hutan. Menjelang akhir tahun 1944  satuan ini akan dibagi – bagi untuk bertugas pada pasukan sekutu yang akan membebaskan Belanda dari pendudukan Jerman. Westerling mendapat latihan para ditambah dengan kursus sabotase dan bahan peledak, ditambah dengan pendidikan Spesial Branch Contrspionase yang ditujukan untuk penyusunan gerakan dibawah tanah diwilayah – wilayah yang diduduki musuh. Ia dipersiapkan untuk di drop di Belanda untuk mengorganisasikan perlawanan bersenjata terhadap pendudukan Jerman, pangkatnya dinaikkan menjadi sersan. Tahun 1944 ia dikirim ke Brussel yang sudah dibebaskan Sekutu dan diberi tugas untuk melatih tentara Belanda yang baru direkrut dari Propinsi Brabant dan Limburg. Pertengahan Maret 1945 westerling teluka berat akibat serangan roket Jerman, sehingga harus dikirim ke rumah sakit di Inggris, setelah sembuh perang di Eropa sudah usai, ia diterbangkan ke Kolombo, Sri Lanka, sedang pangkatnya dinaikkan menjadi Letnan Dua. Permulaan bulan September 1945 ia diikut sertakan dalam Tim Sekutu (Inggris) yang mendarat dengan payung di lapangna terbang Medan untuk mengurusi penyerahan tentara Jepang. Tahun 1946 ia dipanggil ke Jakarta. Ia diminta untuk melatih sekelompok tentara Hindia Belanda dalam taktik – taktik Komando di sebuah Kamp di Polonia. Orang – orang itu merupakan inti dari Pasukan Baret Hijau atau Korp Speciale Troepen.

 

Jadi Pengusaha Truk

“Pemulihan keamanan di Sulawesi dianggap selesai pada tanggal 28 Februari 1947. Westerling sendiri turun tangan  melaksanakan penenbakan – penembakan dengan pistol di belakang leher korbannya. Akhir Oktober 1948 Westerling dipanggil Jenderal Spoor, Panglima Tentara Belanda daia meminta agar Westeling menyusun rencana pendaratan pasukan payung atas Maguwo disusul oleh serangan kilat untuk menduduki ibu kota republik. Kapten ini menyanggupi rencana operasi tersebut tetapi menolak ketika ditugaskan memegang pimpinan penyerangan. Ia tidak yakin bahwa operasi militer itu tidak akan berakhir pada kekalahan politik seperti halnya aksi militer pertama. Kalau seorang tentara menolak perintah atasan, tidak ada jalan lain kecuali mengundurkan diri. Maka pada tanggal 12 Nopember 1948 di Batujajar diadakan upacara serah terima komando, Komando Pasukan  dari Westerling kepada penggantinya Letkol Van Beek. Beberapa hari setelah bebas tugas Westerling mengawini seorang janda keturunan Perancis yang sudah berputri dua orang. Mereka menetap di desa Cililin kemudian pindah ke Pacet, Jawa Barat. Ditempat itu ia mengusahakan perusahaan pengangkutan dengan membeli tiga truk ukuran 3 ton apkiran tentara.

Diajak Kudeta

Desember 1948, yogya bisa diduduki Belanda, tetapi secara politis, Belanda kalah Jenderal Spoor marah sekali kepada para politisi di Den Haag. Westerling diajak kudeta Spoor memperkirakan kudetanya akan berakibat terputusnya persediaan senjata dan amunisi bagi pihaknya. Untuk mengatasi kemungkinan ini ia membeli senjata dan mesiu di pasaran gelap internasional. Westerling ditugaskan untuk melaksanaknnya. Belum sampai seminggu kemudian, waktu proses pembelian sudah berjalan, tiba – tiba Spoor membatalkan niatnya.

Mencatut nama Ratu Adil

Tidak jelas mengapa Jenderal Spoor tiba – tiba membatalkan rencana perampasan kekuasaaannya. Westerling mengatakan bahwa dia akan melanjutkan usaha besar yang telah dusetujui oleh panglima tertinggi dan tidak kehilangan semangat oleh pembatalan. Kesimpulan yang bisa kita ambil ialah bahwa Westerling diam – diam terus melanjutkan operasi subversinya dengan dukungan Spoor Dkk. Yang diceritakannya hanyalah bahwa suatu pagi dalam bulan April 1949 ia didatangi oleh sekelompok orang pribumi . Konon ia didesak untuk menjadi pimpinan gerakan mereka, karena menurut anggapan mereka dialah Ratu Adil yang sudah lama dinantikan. Khayalan atau bukan kejadian ini memberkan ilham kepada Westerling untuk mencatut nama ratu Adil bagi tujuan tujuannya sendiri. Gerakan subversif yang dicetuskannya diberi nama Ratu Adil Persatuan Indonesia disingkat RAPI. Kekuatan bersenjatanya kemudian diberi nama Angkatan Perang Ratu Adil.

SPOOR Diracuni

Westerling mendatangi sarang sarang gerombolan dan laskar bersenjata di hutan – hutan, dilereng lereng pegunungan Jawa Barat, konon seorang diri, tanpa bersenjata. Ia menghasut mereka agar menggabungkan diri dengan APRA-nya. Pada tanggal  7 Mei 1949 tercapai Persetujuan Roem Royen yang membuahkan penghentian permusuhan antara Indonesia Belanda dan Konferensi Meja Bundar yang menuju kepada pemulihan kedaulatan. Tanggal 23 Mei Jenderal Spoor meninggal secara tiba – tiba. Menurut keterangan resmi ia meninggal karena serangan jantung, tetapi menurut Westerling ia mungkin diracun. Penggantinya Jenderal Buurman Van Vreeden. Menginginkan pengembalian kedaulatan secara cepat dan memulangkan tentaranya sedini mungkin. Pada akhir tahun 1949 RAPI mengaku mempunyai beberapa juta orang pendukung dan APRA 22.000 orang yang diorganisasikan dalam milisi – milisi lokal. Apa yang bisa dilakukan dinegara Pasundan, bisa juga diterapkan didaerah – daerah lain. Karena itu perkembangan APRA mengkhawatirkan pembesar – pembesar RI dan Belanda yang kini mendukung pemerintahan Soekarno. Jenderal Van Lange, Kepala Staf Tentara Belanda, pengganti Jenderal Buurman Van Vreeden yang menggantikan Jenderal Spoor sebagai panglima, menemui Westerling di Hotel Preanger. “Kami tahu anda memimpin suau gerakan yang penting”. Kata Van Lange “Kami harap anda tidak mengembangkan suatu inisiatif sebelum pengembalian kedaulatan. Anda akan sangat merugikan kepentingan Belanda. Di Pasundan Westerling mencari akal  bagaimana caranya mempersatukan perlawanan laten terhadap Republik, sebelum struktur – struktur terakhir dihancurkan dan Republik menguasai seluruh nusantara. Pada tanggal 5 Januari 1949 ia menuntut RI mengakui otonomi negara – negara federal secara mutlak.

Bersedia Berlagak Pilon

Westerling punmembuat rencana penyerangan. Untuk menyerbu Jakarta ia akan menyerang dari dalam kota. 2.000 orang anggota APRA dibawah pimpinan Letkol Rappard (bekas Komandan Brigade KRIS) akan meyusup kedalam kota denga pakaian preman dan tanpa senjata, antara tanggal 21 dan 22 januari. Westerling menghadapi dua kesulitan besar: yang pertama pemerintah pusat di Jakarta sudah mengetahui adanya rencana. Yang kedua seandainya ia berhasil menyelundupkan komando ke Jakarta dan akhirnya toh berhasil menguasai ibukota Republik, ia bisa diserang dari belakang, yakni kalau Bandung diambil. Karena alasan strategi dan politik, pertahanan Bandung sama pentingnnya dengan pendudukan Jakarta. Westerling memutuskan untuk menyerang Jakarta dan Bandung secara serentak. Untuk pelaksanaan rencana semacam itu Westerling cuma mempunyai senjata ringan yang cukup untuk menduduki Bandung, kemungkinan untuk merebut persenjatan di Jakarta, sangat terbatas hampir seluruh perbekalan perang Belanda sudah diserah terimakan kepada TNI. Letkol T dari basis komando Bandung kebetulan mengetahui bahwa disuatu tempat ada sebuah depo berisi sejumlah senjata ringan berikut mesiunya yang cukup untuk mempersenjatai 3 kompi. Bintara perbekalan yang bertanggung jawab bersedia membiarkan gudangnya tidak terjaga pada saat yang dijanjikan dengan ganti rugi sebesar 10.000 Gulden. Letkol P komandan Pasukan Komando di Batujajar, bersedia memjamkan matanya jika anak buah Westerling mengambil senjata digudangnya pada pukul 21.00. senjata – senjata berasal dari Bandung akan diselundupkan dalam truk – truk swasta dan dibawa ke pertigaan Padalarang tempat Westerling menjemput pada pukul 22.00. Sesudah itu konvoi kecil akan menuju ke Jakarta. Pada pukul 04.00 senjata akan dibagikan kepada 2.000 orang pasukan liar itu. Pukul 05.00 tanggal 23 Januari APRA akan mengadakan serangan serentak di Bandung dan Jakarta. Di Jakarta mereka merencanakan untuk menawan semua anggota pemerintah pusat dan menduduki instalasi – instalasi vital. Westerling mengandalkan bantuan 1.100 orang anggota polisi dan kepalanya, Komisaris N yang berjanji mendukung gerakannya.

Keluar Keringat Dingin

Sebagaimana direncanakan para penyusup itu masuk kota antara  Sabtu 21 Januari dan Minggu 22 Januari 1950, Pemimpin merekan Rappard bermarkas disebuah rumah di Kramatlaan 20 (sekarang Kramat V, Jakarta Pusat). Hari ahad itu Westerling berusaha tidak menyimpang dari kebiasaannya. Pagi pagi ia berjalan jalan ke Bandung bercakap cakap dengan beberapa orang teman dan kenalan, lalu minum – minum di hotel Preanger. Sore harinya ia mengadakan rapat  terakhir dengan mereka yang akan mengadakan serangan atas Bandung, malamnya Westerling kembali ke hotel untuk makan bersama isterinya, sehinggga terlihat oleh banyak orang. Pukul 21.00 orang orang yang mungkin mengamati tandak – tanduknya mengira ia sudah masuk kamar no. 101. Padahal Westerling bermobil ke Padalarang Pada hari Senin 23 Januari pukul 05.00 gerakan menduduki Bandung dimulai dari Cimahi 6 Km dari Bandung. Gerombolan pengacau yang berjumlah 800 orang terdiri darin gabungan bermacam – macam kesatuan. Mereka mnyerbu markas Besar Divisi Siliwangi dan membunuh setiap prajurit TNI yang dujumpai. TNI baru saja memasuki kota setelah gencatan senjata dan kekuatannya hanya sekitar 2 Batalyon yang tersebar karena kesulitan akomodasi. Di Jakarta keadaan lain Malam Senin, 22 Januari Westerling dan Komplotannya menunggu kedatangan truk  senjata di Padalarang. Pukul 22.30 keringat dingin mulai membasahi tubuhnya, karena khawatir dan tidak sabar menanti. Ternyata anak buahnya memang kepergok di Batujajar sehingga tidak berhasil mendapatkan senjata. Tanpa persenjataan seluruh rencana akan gagal total. Pukul 23.30 Westerling berkesimpulan bahwa ia dikhianati Letkol T. Namun bagaimana sekarang? Untuk membatalkan Operasi Bandung sudah terlambat. Untuk meneruskan rencana di Jakarta, harus dicoba yang mustahil yakni mendapat senjata sebelum pukul 05.00. Kemungkinan terakhir ada di Jakarta sendiri, ia mengharapkan polisi mendukung gerakannnya. Pada saat itu seharusnya Kepala Komisaris N sudah mengadakan persiapan. Pada pukul 02.30 mereka sampai diperbatasan kota dan berhasil lolos dengan berpura – pura akan menyerahkan tawanan Markas Besar Kepolisian.

Sudah Diambil Republik

Merka langsung kemarkas besar kepolisian. Ternyata Komisaris N tidak ada ditempat Westerling mengajak rombongannya ke rumah komisaris. Komisaris N muncul berpakaian piyama, dengan wajah mengantuk dan rambut kusut. “Mengapa kamu tidak ada di posmu” bentak Westerling yang dibentak menjawab dengan suara datar dan hampir tidak terdengar ”Saya telah berpikir lagi Kapten. Rasanya urusan ini terlalu berbahaya. Saya tidak ikut lagi. Maaf saja tetapi jangan mengandalkan saya dan anak buah saya lagi. Westerling muak. “Kami bisa tanpa kau, tapi serahkan kunci gudang senjata.” Komisaris itu menundukkan kepalanya ”Saya bisa saja memberikan kunci gudang tetapi disana sudah tidak ada senjata lagi. Kemarin sudah diambil Tentara republik.

Sembunyi di Bunker

Rappard mengusulkan untuk menyerang sebuah asrama untuk memperoleh senjata Westerling hanya menggelengkan kepala, dari jendela terlihat fajar baru telah menyingsing ___ Terlambat. Hari itu juga markas Westerling di Kramatlaan diserbu TNI dengan akibat tewasnya Rappard. Para anggota komplotan digulung termasuk Sultan Hamid yang waktu itu masih menjabat menteri  tanpa portofolio dalam kabinet pertama RIS. Westerling sendiri dilindungi oleh teman – temannya dalam Angkatan Bersenjata Belanda. Sambil menantikan kesempatan untuk kabur Westerling menurut pengakuannya bersembunyi disebuah bunker tua yang tak terpakai ditemani oleh beberapa pengikutnya.

Kabur Keluar Negeri

Pada tanggal 23 Februari 1950 seorang yang berseragam sersan Angkatan Udara Belanda yang tampangnya sangat mirip Westerling menaiki sebuah pesawat ampibi PBY Catalina yang berlabuh di pelabuhan Tanjung Priok. Tak lama kemudian pesawat militer itu terbang ke arah Malaysia, hari sudah hampir kelam ketika ketika Catalina itu melaut beberapa kilometer lepas Pantai Pontian. Westerling yang sudah mengganti seragamnya dengan pakaian preman, meniup sebuah perahu karet bersalaman dengan anak buah pesawat, lalu turun ke perahu. Masuknya Westerling tidak boleh ketahuan pejabat Inggris. Perahu sama benar dengan yang dipakainya dalam petualangannya di rawa – rawa atau di sungai – sungai Indonesia. Ia menuju ke pantai dengan mengayuh kuat – kuat. Sejurus kemudian ia terperanjat perahunya bocor.

Umpan Ikan Hiu

Laut tenang tetapi disekitarnya banyak ikan Hiu berkeliaran Westerling mengayuh seperti kuli rodi ”Bajingan mereka itu” makinya diam – diam” aku tertipu. Bagus sekali bekas Kapten Westerling tidak ditemukan kembali dilalap ikan Hiu dilepas pantai Malaysia. Tidak ada cara yang lebih bagus untuk menyingkirkan seorang pengacau ” Ia seperti kerasukan tetapi agaknya perahu tidak maju – maju, malah makin tenggelam. Westerlng menatap sinar lampu dipanyai yang jauh dengan rasa putus asa ”lalu ada sesuatu yang meluncur diantara dia dengan cahaya lampu, mirip sayap kalong, sebuah bayangan hitam pada langit yang gelap. Sebuah perahu layar! Westerling berteriak sekuat tenaga. Dengan perahu nelayan itu akhirnya Westerling mencapai Pontian. Dengan surat – surat keterangan palsu aatas nama Ruitenbeek, warga negara Belanda, Westerling memasuki Singapura. Ia ditangkap oleh Polisi Inggris pada hari keeempat.

Diminta Membantu RMS

Ketika berita penagkapannya tersiar pemerintah Indonesia menuntut ekstradisinya. Pemerintah kolonial Inggris di Singapura ogah menyerahkan Westerling dengan alasan tidak ada perjanjian ekstradisi antara kedua negara. Westerling akhirnya hanya di jatuhi hukuman 2 bulan penjara, karena bersalah memasuki negara dengan identitas palsu dan pelanggaran lain. Setelah masa hukumannya habis ia masih ditahan lagi 4 bulan lalu dideportasi ke negeri asalnya. Setelah itu pemerintah Belanda mengeluarkan perintah penahanan atas westerling karena tuduhan menghasut anggota angkatan Bersenjata melakukan makar” pada waktu pesawat mendarat di Kairo Westerling ternyata dibebaskan oleh anggota Dinas Rahasia Inggris. Selama tinggal di Brussel ia didekati oleh para gembong pemberontak RMS. Tahun 1952 ia memasuki negeri leluhurnya secara diam – diam, lalu ditangkap. Hakim menyatakan tidak ada alasan untuk menahan Westerling, sehingga ia dibebaskan pada hari itu juga. Selama 3 tahun berikutnya ia dipanggil dan didengar keterangannya oleh pengadilan secara tertentu. Tahun 1955 perkaranya disisihkan. Tanggal 26 Nopember 1987 Raymond Westerling yang pernah membantai begitu banyak manusia di Indonesia meninggal di Pumerend, 20 Km dari Amsterdam, Umurnya 68 tahun.

Sumber : Intisari No : 294 Edisi Januari 1988