TENZING NORGAY, PENAKLUK PERTAMA MOUNT EVEREST ( 29 MEI 1953 )

Tenzing Norgay adalah salah asatu dari dua penakluk pertama puncak tertinggi didunia pada tanggal 29 Mei 1953. Anak petani suku Sherpa yang miskin ini, terkenal didunia dengan julukan Harimau Salju. Tenzing meninggal tahun 1986 diusia 72 tahun. Ringkasan perjuanagan mencapai “Atap Dunia” ini diambil dari Otobiografinya berjudul  Man Of Everest (1955) seperti dituturkannya kepada James Ramsey Ullman.

Tenzing Norgay memang dilahirkan di negeri tinggi membeku, Solo Khumbu, ditimur laut Nepal. Wilayah ini terdiri atas dua distrik bertopografi berbeda. Distrik Solo diselatan, adalah dataran rendah, sedangkan distrik Khumbu diutra terletak didataran tinggi yang amat dekat dengan jajaran pegunungan Himalaya. Dari distrik diutara inilah Tenzing dan harimau – harimau salju lainnya berasal. Ketika ia dilahirkan Nepal baru saja terbuka dari dunia luar. Dimasa itu hanya ada dua cara untuk mencapai Khatmandu, ibu kota negeri, yaitu jalan kaki atau terbang dengan pesawat. Solo Khumbu masih jauh lagi dari situ. Tenzing dilahirkan di Tsa Chu sebuah kampung didekat gunung besar yang disebut Makalu. Dia mengaku tak tahu persis kapan tanggal lahirnya, msebab dimasa itu dulu kalender Tibet tidak menyebutkan tanggal. Sistem kalender Tibet Cuma menyebutkan tahun saja dengan nama – nama binatang macam kuda, harimau, banteng, burung atau ular. Tenzing dilahirkan pada tahun Yoa (kelinci) atau tahun 1914. Sedangkan bulannya dai mencoba mengingat ingat cuaca dan tumbuhan ketika daia dilahirkan, lalu memperkirakan sekitar akhir Mei. “ Ini pertanda baik, karena khir bulan bulan Mei terbukti menjadi waktu yang terpenting dalam hidup saya,” kata Tenzing. Tanggal 28 Mei 1952 dia hampir saja mencapai puncak Everest. Setahun kemudian tanggal 29 Mei 1953 dia bahkan mencapainya untuk pertama kali dalam sejarah manusia. Kedua orang tuanya Ghang La Mingma dan Kinzom dari kampung Tamey, mempunyai tujuh putra dan enam putri. Tenzing sendiri anak ke 11. Tenzing tadinya diberi nama Namgyal Wangdi, tapai seorang lama ( pendeta budha dari Tibet ) menggantinya menjadi Tenzing Norgay atau Norkay. Pendeta dari Rongbuk ( Tibet ) itu bilang Namgyal Wangdi adalah reinkarnasi seorang pria kaya yang meninggal di Solo Khumbu dan oleh karena itu namanya harus diganti supaya menguntungkan. Norgay artinya kaya atau beruntung, sedangkan Tenzing artinya pendukung agama. Kedua orang tua Tenzing Norgay mengharapkan nama baru itu membawa perubahan dan harapan yang lebih baik. Kehidupan yang keras menyebabkan kematian mejadi terlalu dekat dengan orang Solo Khumbu. Dari keluarga besar itu ternyata hanya Tenzing dan tiga saudara perempuannya saja yang terus hidup dan tumbuh dewasa. Ayahnya meninggal  ketika Tenzing berusia 35 tahun. Kinzom ibunya masih menetap di Thamey sampai tahun 1955. Dia masih sempat menyaksikan keberhasilan Tenzing mencapai puncak Everest tahun 1953. “ saya sangat gembira melihatnya kembali sejak bertahun – tahun tidak bertemu,” kata Tenzing ketika mengunjunginya di Thamey setelah keberhasilannya itu.

Kepalanya Sempat Gundul

Perubahan memang terjadi dan membentuknya menjadi seorang pendaki gunung yang tangguh.  Padahal ketika remaja Tenzing berniat hidup dibiara, menjadi seorang lama. Kepalanya digunduli dan ia mengenakan jubah. Tetapi suatu ketika seorang lama yang marah melontarkan satu balik kayu ke kepalan gundulnya. Tenzing kabur kerumah dan membatalkan niatnya menjadi lama, Itulah nasibnay. Boleh jadi kalau tidak ada peristiwa ituTenzing tak dikenal sebagai Penakluk gunung akbar. Barangkali balok kayu yang menghantam kepalanya itu telah membuatnya tergila – gila pada gunung. Everest telah dilihatnya berkali sejak kecil. Ketika dia mengenalnya dengan nama Chomolungma. Ibunya ketika itu bilang Chomolungma artinya gunung tinggi yang tak dapat dilewati burung. Berbeda dengan kebanyakan teman seumurnya Tenzing kecil sangat pemalu dan suka tinggal dirumah. Ketika teman temanya salaing dorong atau bermain lumpur dan batu, Tenzing duduk sendirian di rumahnya dan mengkhayalkan perjalanan besar ke tempat tempat yang jauh. Dia kadang kadang membayang dirinya memmimpin sepasukan tentara menuju Lasha di Tibet. “ Ayahnya tertawa terbahak – bahak, ketika saya minta kuda supaya dapat beperhian jauh,” Kata Tenzing mengenang. Keluarga Tenzing adalah petani. Mereka menanm kentang, juwawut dan jagung. Mereka memelihara domba dan yak ( sejenis lembu ) untuk memperoleh susu dan membuat mentega, juga bulu untuk pakaian wol. Dari yak sekali kali mereka mengambil darahnya tanpa membunuhnya, untuk dicampur dengan makanan lainnya. Sedangkan dari luar wilayahnya, mereka mebeli garam dan kadang kadang daging kering dari Tibet. Keluarga mereka sangat miskin. Tetapi Tenzing dianggap bayi  keberuntungan, sebab sejak kelahirannya kehidupan keluarga ini mejadi lebih baik. Ditahun yang sama saat kelahirannya, beberapa yak milik keluarganya melahirkan seratus ekor anak. Sejak itu peternakan Yak mereka berlipat ganda tiga sampai empat kali lebih banyak lagi.

Ekspedisi awal yang terkenal di Everst terjadi tahun 1921, 1922, dan 1924. Banyak orang Sherpa dari Solo Khumbu dan Darjeling telibat dalam ekspedisi – ekspedisi itu dan kembali dengan ceritanya mengenai pendakian menuju langit dan Chilinanga, sebutan buat orang dari tempat tempat jauh. Banyak diantara mereka yang kembali memakai sepatu boot besar dan pakaian – pakaian yang belum pernah dilihat sebelumnya. Mereka berbincanag bincanag tentang Everest. Itulah ntuk pertama kalinya Tenzing mendengar nama Everest, satu nama asing untuk menyebut gunung yang lebih dikenal dengan nama Chomolungma. Tenzing yang takjub membeli sepasang sepatu boot dan memakainya. Sepatu ternyata terlalu besar dan berat, sehingga dia tidak dapat berjalan sama sekali. Dalam ekspedisi 1922 tujuh orang Sherpa terkubur di sebuah avalanche ( longsoran salju )besar. Tetapi tahun 1942 lebih banyak lagi orang Sherpa kembali kegunung itu, ikut mendaki bersama chilinanga yang berkulit putih. Tahun ini dua pendaki inggris, George Malloray dan Andrew Irvine dilaporkan mencapai puncak dan kemudian menghilang. Tenzing mendengar cerita ini tak pernah lupa nama kedua orang itu. Ketika dia berdiri di puncak Everest 29 tahun kemudian, Tenzing mecoba melihat ke sekelilingnya dan mencari apakah ada tanda yang menunjukkan, bahwa kedua orang itu telah mencapai puncak sebelum mereka menghilang. Tetapi tak menemukan apa  apa disitu.

Mengenal “Chilina-nga” Eric Shilton

Tenzing tumbuh menjadi remaja dan memutuskan untuk meninggalkan Solo Khumbu. Bukan kegunung. Tetapi ke Kathmandu. Di umur 13 tahun dia meninggalakan kampungnya tanpa memberitahukan kedua orang tuanya. Dia berjalan kaki selama dua minggu dan untuk pertama kalinya melihat kota. “ Saya merasa aneh dan bingung, terutama karena penduduk Kathmandu kebanyakan beragama Hindu, sedangkan saya Budha,” cerita Tenzing. Akhirnya dia memutuskan tinggal di sebuah biara Budha.Baru lima tahun dia kembali kerumahnya di Solo Khumbu. Cuma Tenzing mersa tidak cocok menjadi petani, lalu memutuskan kembali pergi dari situ menuju Darjeling. Dia mendengar bahwa tahun depan 1933 bakal ada satu ekspedisi ke Everest melalui Darjeling. Jadi dia memutuskan untuk menunggu disitu dan mencoba mengadu nasib mengikuti ekspedisi itu. Dikota itulah  itulah untuk pertama kalinya dia melihat Chilinanga yang umumnya orang Inggris. Tiba saatnya yang ditunggu – tunggu. Permulaan tahun 1933 para pendaki Inggris berdatangan ke Darjeling mencari pengangkut barang untuk membantu ekspedisi mereka. Tenzing mengadu nasib dan mencoba mendaftar. Tetapi dia salah langkah. Ketika pertama kalinya dia datang ke Darjeling rambutnya panjang dan dikepang macam umumnya pria Solo Khumbu. Di Darjeling panampilannya itu ditertwai dan dibilang perempuan. Jadi akhirnya dia memutuskan untuk memotong rambutnya pendek dan memakai pakaian Nepal, dia mendaftar diri untuk menjadi pengangkut barang ekspedisi. Para pendaki Inggris menyangka ia orang Nepal, bukan Sherpa yang mereka kehendaki. Ketika rombongan Ekspedisi itu berangkat, Tenzing dengan sedih memandang mereka dari kejauhan di belakang. Dia terpaksa kembali memerah sapai dan menjual susu kepada langganannya.

Tahun 1934 sebuah ekspedisi Jerman mencoba mendaki Nanga Parbat di Kashmir, Pakistan. Banyak orang sherpa yang ikut mendaki bersama mereka, dan inilah pertama kalinya mereka menninggalkan kampung halamannyaeg begitu jauh. Dalam satu badai digunung itu, enam orang sherpa bersama empat pendaki Jerman tewas. Salah satu oarang Sherpa yang bernama Gyali telah menjadi buah bibir. Dia sebenarnya masih kuat dan kalau mau bisa meninggalkan kemah yang sedang dilanda badai besar itu. Tetapi pimpinan ekspedisi Willy Merkl terlalu lemah untuk bisa berjalan turun. Kalau mau Gyali bisa saja meninggalkannya. Tetapi tidak dia memutuskan tetap tinggal bersama Merkl dan mati bersama sama. Kendati belum pernah mendaki gunung, mendengar cerita ini Tenzing merasa bangga sekali menjadi orang Sherpa. Kesempatan pertama buat Tenzing akhirnya datang tahun 1935. Sebuah ekspedisi Inggris pimpinan Eric Shipton datng ke Darjeling, tetapi karena kesulitan memperoleh ijin dari pemerintah Tibet diputuskan bahwa ekspedisi dilakukan Cuma untuk Reconnaissance alias pengenalan wilayah saja. Tenzing yang telah lama menunggu nayris kehilangan kesempatan lagi. Ekspedisi  mengumumka bahwa mereka memrlukan orang Sherpa pengangkut barang yang telah berpengalaman dan pernah mengikuti ekspedisi. Tetutuplah kemungkinan buat Tenzing. Tetapi kemudian menyusul pengumuman bahwa ekspedisi masih memerlukan dua pengangkut barang lagi. Tenzing segera berdiri di antrean lebih dari 20 calon, Eric Shimpton menanyaakan apakah Tenzing mempunya pengalaman sebelumnya. Dengan putus asa menggelengkan kepala. Ketika disuruh melangkah keluar antrean, Tenzing sudah berpikir habislah kesempatannya. Tetapi ternyata Shimpton ,memanggilnya kembali dan terpilihnya dia bersama seorang sherpa muda lainnya. Belakangan dalam satu resepsi tahun 1953 di London untuk menyambut keberhasilannya bersama Edmund Hillary menjadi orang pertama yang mencapai puncak Everest, Tenzing tak bisa melupakan Shimpton yang hadir ketika itu sebagai orang pertama yang memberikan kesempatannya menjadi orang terkenal.

Tabung Udara Inggris Si Harimau Salju

Buat tenzing ekspedisi pertamannya membawa kesituasi yang serba baru. Dia memakai pakaian yang serba tebal dan sepatu boot yang berat, juga kacamata khusus. Untuk pertama kalinya pula dia mengunyah makanan aneh dari kaleng. Kagum sekali vdia melihat kompor tekan, kantung tidur dan macam – macam perlengkapan lain. Tenzing juga banyak belajar menggunakan peralatan mendaki gunung es. Bagi dia salju dan padang es bukan barang baru, tetapi baru untuk peralatan kali inilah dia melakukan teknik pendakian yang lebih cepat dan aman. Tenzing adalah salah seorang sherpa yang berhasil membawa beban berat dalam ekspedisi itu sampai ke North Col di ketinggian lebih lebih dari 7.000 m diatas permukaan laut. Ketika semua Sherpa pengangkut barang bergembira turun seusai ekspedisi, tenzing malah merasa sedih dan ingin sekali mendaki lebih tinggi lagi. Setahun kemudian satu ekspedisi Inggris kembali datang dan mengajak Tenzing bergabung. Ekspedisi yang dipimpin seorang pendaki tua bernama Hugh Ruttledge ini mebawa beberapa pendaki Inggris ternama yang pernah ikut tahun sebelumnya Eric Shimpton. Ekspedisi kali ini  melibatkan total 60 Sherpa alias lima kali lebih besar ketimbang ekspedisi tahun lalu. Tetapi cuaca ketika itu buruk sekali dan mereka hanya mencapai ketinggian yang lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Hujan salju dan angin kencang hampir menerbangkan mereka dari gunung. Usai ekspedisi, Tenzing tak pernah bertemu lagi dengan Ruttledge. Barulah pada satu resepsi di London setelah selesai keberhasilan Tenzing mencapai Everest tahun 1953 Ruttledge datang dan menjabat tangannya. “Nak kau telah melakukan pekerjaanmu dengan baik. Saya sekarang sudah tua. Saya telah mencoba dan gagal  di Everest, tetapi tak apa –apa, karena sekarang kau telah berhasil,” katanya.

Tak ada ekspedisi besar tahun tahun berikutnya. Tenzing Cuma mengikuti beberapa ekspedisi kecil, antara lain ke Garhwal india. Dia menunggu dengan perasaan tak sabar di Darjeling. Otaknya penuh dengan bayangan Everest. Baru tahun 1938 kemabli sebuah ekspedisi Inggris datang dengan pimpinan H.W Tillman yang lagi lagi membawa antara lain Eric Shimpton. Untuk pertam kalinya para hight Climbing Sherpa macam Tenzing tidak mendapat tugas membawa beban berat sampai mereka mendaki gunung yang sesungguhnya. Satu hal yang menarik bagi Tenzing adalah tabung oksigen yang untuk pertama kalinya dilihatnya. Para Sherpa menyebutnya “udara Inggris”. Salah satu tabung itu belakangan ditinggalkan disebuah biara dan digantung, lalu berubah fungsi menjagi gong. Dibawah North Col enam pendaki termasuk Tenzing tiba – tiba terjebak longsoran salju yang sempat mengubur sebagian dari mereka. Beruntung longsoran salju itu tidak terlalu besar, sehingga Tenzing yang sempat tersuruk dibawah salju berhasil keluar dan menyelamatkan diri. Mereka semua selamat dan Cuma kehilangan satu balanclava (penutup kepala) dari wol. Tenzing dan kelompoknya berhasil mencapai ketinggan 25.800 kaki dann mendirikan kamp-5. Cuaca ketika itu buruk dan mereka harus menunggu. Tetapi dua orang Sherpa yang membawa tenda tidak berhasil menyusul mereka dan ini membawa masalah besar. Tenzing memutuskan sendirian turun kembali dan mengambilnya. Ternyata tenda itu ditinggalkan ditengah jalan dan dua orang Sherpa yang membawanya telah turun. Tenzing yang ketika itu tidak memakai Crampon (tajaman dari besi yang dipasang di telapak kaki )terpeleset ketika mencoba kembali naik. Untung dia berhasil menahan laju jatuhnya dengan kapak es, sebab kalau tidak dia bakal meluncur ke gletser hampir 2 km dibawahnya. Tenzing berhasil kembali ke kamp-5 beberapa saat sebelum gelap. Di akhir ekspedisi usahnaya yang berani itu mendapatkan penghargaaan dan dia mendapat hadiah khusus sebesar 20 rupee.  Hari berikutnya adalah mendirikan kamp-6 diketinggian 27.200 kaki dari situ dua orang pendaki inggris eric Shimpton dan frank Smythe mencoba mencapai puncak tetapi terpaksa kembali turun lantaransalju terlalu tebal sampai ke pinggang. Musim Mansoon talah datang dan setiap harapan mencapai puncak berakhir. Mereka terpaksa membatalkan usahanya kendati demikian Tillman sangat berterima kasih kepada para Sherpa yang membantunya. Untuk pertama kalinya secara resmi Tillman membuat julukan Harimau Salju kepada para Sherpa itu. Keenam Sherpa yang mengikuti ekspedisi itu diberi penghargaan berupa Medali Harimau. Tenzing gembira masuk kejajaran “Harimau Salju” Pertama.

Puncak dan Pesawat Terbang Pertama

Sejak ekspedisi itu Tenzing hanya sempat mengikuti dua usaha pendakian digunung tak tinggi, sebelum akhirnya pecah perang Dunia II yang menghentikan segala usaha pendakian di Himalaya. Barulah tahun 1947 , seorang Kanada Earl Denman datang Darjeling dan mengajak Tenzing membantunya mendaki everest. Dia Cuma sendirian dan tak punya ijin untuk masuk Tibet. Perlengkapan yang dibawanya juga buruk sekali. Sebenarnya Tenzing enggan, tapi keinginannya yang sangat besar untuk mendaki Everest akhirnya memutuskannya ikut. Bersama dengan seorang Sherpa lainnya Ang Dawa jadilah mereka satu kelompok kecil yang mencoba mendaki Everest tetapi seperti diperkirakan Tenzing sejak semula, mereka akhirnya terpaksa turun kembali setelah berupaya mencapai North Col. Satu ekspedisi lagi yang tak terlalu besar, tetapi dianggap lumayan penting bagi tenzing terjadi tahun ini juga. Ekspedisi ini dilakukan para pendaki gunung Swis ke Garhwal. Mereka melakukan rangkaian pendakian dibeberapa gunung berketinggian lebih 7.000 m yang belum pernah ditaklukkan sebelumnya. Gunung – gunung itu memang kalah tinggi ketimbang Everest, tetapi bagi Tenzing mempunyai arti tersendiri, lantaran untuk pertama kalinya dia berhasil mencapai satu puncak gunung besar. Dia mencapai puncak Kadernath yang terjal dan berbentu menara. Tingginya memang Cuma lebih sedikit dari 7.000m tidak lebih tinggi dari North Col di Everest yang pernah dicapai sebelumnya. Ekspedisi ini berhasil menginjak 4 puncak gunung perawan. Satu rekor tersendiri yang tidak bisa dibandingkan dengan ekspedisi lain. Tahun 1950 kembali Tenzing mengikuti satu ekspedisi Inggris dibawah pimpinan Letnan Richard Marsh bertujuan mengadakan penelitian diwilayah Perbatasan beberapa negara : Pakistan, Afghanistan, Tibet, dan Rusia. Tenzing bertemu dengan Marsh di Kalkuta, India. Mereka kemudian melakukan perjalanan ke Rawalpindi, Pakistan dan menuju ke Penshawar. Dari situ mereka melanjutkan perjalanan ke Gilgit dengan pesawat terbang. Untuk pertama kalinaya, Tenzing dan tiga orang Sherpa yang ikut bersamanya naik pesawat terbang. Mereka dengantidak sabar duduk dikursi terikat sabuk pengaman dan begitu diperbolehkan melepaskannya, mereka bergegas melongok ke luar lewat jendela.

Dilokasi ekspedisi mereka itulah berdiri tegak gunung besar yang telah membunuh 29 pendaki gunung yang mencoba menaklukkannya, Nanga Parbat. Tiga peneliti Inggris dalam ekspedisi itu tiba tiba saja memutuskan mendai gunung tertinggi ke 9 didunia itu. Tenzing dan Sherpa lainnya menolak ikut serta, sebab musim dingin ketika itu telah datang. Tenzing dan teman temannya menunggu dikemah induk, semntar Richard Marsh dan kedua rekannya mencoba mendaki. Enam hari kemudian Marsh turun kembali lantaran kakinya terasa semakin membeku. Kedua rekannya terus mencoba mendaki , satu sore mereka yang kemah diinduk melihat kedua orang itu mendirikan tenda diketinggian sekitar 18.000 kaki. Malam itu Tenzing bermimpi bertemu kedua pendaki tersebut berpakaian baru dan dikelilinagi banyak pria tanpa wajah. Esok harinya tenda yang mereka lihat kemarin telah hilang! Tenzing bersama Marsh dan seorang Sherpa lainnya memutuskan untuk mendaki dan mencari mereka, tapi hasilnya nihil.

Empat Pendaki Tewas

Everest bagi Tenzing adalah gunungnya. Dia tak ingin melewati setiap kesempatan mendaki gunung itu. Tetapi tahun 1951 Tenzing terpaksa melepaskan keinginannya ke situ. Eric Shipton kembali ke Everest dan minta Tenzing membantunya. Sayang Tenzing sudah keburu menandatangani kontrak membantu satu ekspedisi Prancis mendaki Nanda Devi. “ Saya benci sekali kehilangan kesempatan ini, tetapi tak mungkin saya berada didua tempat di saat yang bersamaaan,” katanya. Akhirnya berangkatlah Tenzing bersama 8 orang Sherpa lainnya menuju sang gunung suci Nanda Devi. Roger Duplat pemimpin ekspedisi itu mengemukakan tujuannya untuk melintasi (Traversing) gunung itu dari puncak utama ke puncak Timurnya. Belum pernah ada pendaki gunung yang melakukan ini sebelumnya. Dia akan melakukan berdua saja dengan rekannya, Gilbert Vignes. Dari kamp-4 diketinggian 25.600 kaki Duplat dan Vignes mulai mendaki puncak. Sementara itu beberapa hari sebelumnya Tenzing dan dua pendaki Perancis lainnya telah berupaya mendaki Nanda Devi Timur untuk menjemput mereka. Disatu celah besar yang disebut Longstaff Col, mereka mendirikan tenda dan menunggu. Mula mula mereka dengan jelas melihat semua gerakan Duplat dan Vignes. Tetapi hari hari berikutnya mereka tak bisa melihat kedua pendaki itu. Tak ada tanda – tanda sama sekali. Mereka mencoba beteriak memanggil, tetapi tak ada jawaban. Tenzing dan Louis Dubos akhirnya memutuskan mencari kedua rekannya yang hilang itu. Lalu seminggu setelah Duplat dan Vignes menghilangTenzing dan Dubos meninggalkan kamp-4 dan mulai mendaki puncak Nanda Devi Timur. Lereng gunung yang curam dan amt licin membuat mereka beberapa kali terpeleset. Mereka berjuang keras menjaga keseimbangan di punggung gunung yang yang tajam bak pisau. Akhirnya mereka berhasil mencapai puncak! Kelompok pencari lantas dibentuk dab mencoba menelusuri mereka. Lagi – lagi nihil hasilnya. Tenzing sendiri yakin kedua orang itu telah mencapai puncak Nanda Devi. Tetapi ketika mereka turundan mencoba melintasi punggung gunung yang menghubungkan Nanda Devi dengan Nada Devi Timur, kedua orang itu terpeleset dan jatuh ke gletser dibawahnya. Target utama ekspedisi todak tercapai, tetapi mereka tak gagal sama sekali. Paling tidak dua diantara mereka berhasil mencapai puncak Nanda Devi Timur dan kembali dengan selamat. Tenzing dan Dubos adalah kelompok kedua yang berhasil mencapai puncak itu. Banyak orang kemudian bertanya kepada Tenzing gunung apa yang paling sulit dan ber bahaya dari semua yang telah didakinya ? tenzing menjawab “Nanda Devi Timur”

Dua ekspedisi terakhir yang diikuti tenzing telah menewaskan empat orang. Toh ini nampaknya belum cukup. Masih ditahun yang sama, Tenzing berangkat kembali berekspedisi ke wilayah Kangchenjunga di utara Darjeling. Kali ini dia mendaki bersama seorang Swiss, George Frey. Mereka berhasil mendaki beberapa puncak gunung yang tak terlalu tinggi. Tetapi ketika mereka mendaki puncak Kang yang masih perawan, tenzing tiba – tiba melihat sebuah benda kecil berwarna gelap ditengah padang salju. Ternyata itu kamera Frey. Tenzing terus berjalan dan mencari cari dan terlihatlah Frey terbaring tewas. Dia  jatuh, jari tangan Tenzing terluka dan patah ketika berusaha menangkap Frey. Itulah untuk pertama kalinya dia menderita sepanjang karier mendaki gunungnya. Nama Tenzing ketika itu telah terkenal dan sering muncul disurat – surat kabar. Orang mengenalnya, tetapi banyak pula yang tidak tahu persis kehidupan keluarganya. Maka terbetik cerita lucu. Ang Lahmu isteri kedua Tenzing (isteri pertamanya meninggal) ketika dia bekerja sebagai ayah  (pembantu) disebuah hotel di Darjeling. Tak ada yang tahu kalau dia isteri Tenzing. Dia hanya dikenal dengan nama Nima. Perhatiannnya yang besar terhadap berita berita tentang Tenzing menyebabkan seorang wanita berbangsa Inggris bertanya. “Apakah kau mengenal Tenzing?” Ang Lahmu yang pemalu Cuma bilang Tenzing itu berasal dari kampung yang sama dengannya. Belakangan setelah keberhasilan mencapai Everest, Ang Lahmu dan Tenzing diundang ke London untuk menghadiri satu resepsi kehormatan buatnya. Beberapa wanita Inggris yang pernah ke Darjeling terkejut melihat Ang Lahmu. “Astaga itukan Nima!” seru mereka.

Mendaki Lagi Bersama “Beruang”

Tenzing akhirnya kembali lagi ke Everest tahu 1952. Banyak hal baru yang dialaminya dalam ekspedisi kali ini. Pertama ekspedisi yang diikutinya sekarang mengambil lintasan dari selatan. Empat kali Tenzing mendaki Everest , tetapi sebelumnya mengambil lintasan dari Tibet dan Rongbuk di sisi Utara. Tetapi sekarang Tibet yang dikuasai Cina Komunis menutup diri, sementara Nepal perlahan lahan tengah membuka diri dari dunia luar. Jadi ekspedisi – ekspedisi pasca perang dunia II mengalihkan lintasan ke sisi selatan. Mereka mengawali perjalanan mendekati Everestt dari Kathmandu menuju solo Khumbu, sebelum akhirnya mendirikan kemah induk di sisi selatannya. Tenzing sangat gembira sisi inilah yang paling dikenalnya sejak kecil. Dia akan bertemu dengan ibunya lagi. “Saya akan berdiri disampingnya lagi dipadang rumput yang bterjal dibelakang Thamey serta memandang kembali gunung tinggi yang tak dapat dilewati burung,” tuturnya menyatakan kegembiraan. Hal kedua yang baru bagi Tenzing adalah kebangsaan rombongan ekspedisi kali ini yang bukan Inggris. Hnaya merekalah yang selama ini mencoba mendakinya. Tetapi sekarang tidak. Ekspedisi yang bakal diikuti Tenzing kali ini berasal dari Swis. Dua anggota pendaki gunung negara inimemang teman lama Tenzing. Andre Roch dan Rene Dittert pernah mendaki gunung bersamanya di Garwhal tahun 1947. Tenzing kembali terpilih sebagai sirdar (pemimpin pengangkut barang). Banyak Sherpa yang meragukan ekspedisi kali ini dan tak mau ikut serta. Mereka takut terjadi keributan macam yang pernah dialami setahu sebelumnya dalam ekspedisi Inggris pimpinan Eric Shipton. Bahkan seorang harimau salju tekenal Ang Tharkay bertaruh 20 rupee dengan Tenzing bahwa ekspedisi kali juga tak bakal berhasil melewati crevasse besar di Khumbu Ice Fall yang telah mengagalkan Eric Shipton. Lintasan disisi selatan Everest jauh lebih berbahaya dan sulit ketimbang sisi utaranya.

Untunglah Tenzing akhirnya berhasil mengajak 13 orang Sherpa pendaki gunung. Diantara 8 anggota ekspedisi bangsa Swis terdapat seorang pendaki gunung bernama Raymond Lambert. Dittert memperkenalkan Lambert kepada Tenzing: ”Lihat saya membawa seekor beruang!” lambert menyalami Tenzing sambil mengeram betul betul macam beruang. Inilah pertemuan pertama mereka. Tenzin g tak menyangka, Lambert inilah yang natinya menjadi rekannya diketinggian gunung dan temannya yang paling dekat dan disayanginya. Padahal kedua orang ini sulit sekali berkomunikasi, lantaran keduanya tak rancak bercakap – cakap dengan bahsa Inggris. Mereka meninggalkan Kathmandu  akhir Maret dan berjalan kaki berhari – hari, sebelum ahkhirnya tiba di Khumbu. Tenzing disanbut ibunya, setelah 18 tahun berpisah mereka berpelukan dan menagis terharu. Rombongan ekspedisi ini lantas larut dalam pesta besar . Mereka mnyanyi, menyanyi, dan meneguk Chang  (sejenis tuak)  sampai mabuk. Akhirnya tibalah mereka di Crevasse besar yang ditakuti di Khumbu Ice Fall. Para pendaki gunung Swis itu tak kehilangan akal untik menyiasatinya. Seorang dari mereka beryun ayun disebuah tali, lalu setelah berusaha berkali kali akhirnya berhasil menggapai bibir crevasse diseberangnya. Terciptalah satu jembatan tali. “Ini kemenangan besar. Kami begitu gembira , sehingga rasanya seperti telah mencapai puncak Everest itu sendiri,” tulis Tenzing dicatatannya. “Aha Ang Tharkay, uangmu 20 Rupee telah menjadi milik saya. Sayang, saya belum sempat mengambilnya. “ mereka telah memasuki Western Cwm. Mereka telah melakukannya lebih dari kelompok – kelompok sebelumnya. Lamber yang sekarang mirip 10 ekor beruang itu mengerang dan mengeluarkan ucapan kegemarannya “ Ca va Bien “ semua berlangsung dengan baik.

Menginjak Everest

Beberap mimnggu kemudian mereka berhasil pula mencapai Shouth Col, punggung gunung yang menghubungkan Everest dengan Lhotse. Mereka terus berupaya menambah ketinggian. Tenzing bersama Lambert, aubert, Flory suatu ketika berhasil mencapai ketinggian 27.500 kaki. Mereka memutuskan berhenti disitu  dan bermalam. Tetapi tenda mereka terlalu kecil  dan hanya bisa memuat dua orang saja. Aubert dan Flory memutuskan turun. Mereka berpisah dengan mata berkaca kaca . Aubert dan Flory masih cukup kuat sebenarnya, tetapi mereka mengalah dan memberikan kesempatan kepada kedua rekannya. Malam itu Tenzing dan Lambert yang sulit berkomunikasi lebih banyak berdiam diri. Satu ketika Tenzing menunjuk – nunjuk ketas dan berkata : ” Tomorrow you and I. “ Lambert mengeram, Ca Va bien!” . Esok pagi mereka memang berjalan berdua mendaki kembali. Naik …. naik, sangat lambat, hampir hampir merayap, tiga langkah dan berhenti, dua langkah dan berhenti, satu langkah dan berhenti! Mereka melemparkan tabung tabung oksigen untuk mengurangi berat. Jam demi jam berlalu mereka terus mendaki, sampai akhirnya berhenti dan tak bergerak lagi. Tenzing mendongak keatas. Didepan mereka terlihat satu puncak. Tetapi bukan puncak utama. Sekitar 500 kaki diatas mereka itu baru puncak selatan. Mereka membalikkan badan dan kembali turun. Mereka telah mencapai ketinggiann 28.250 kaki. Mereka berdua adalah manusia yang paling dekat dengan puncak sampai saat itu. Mereka juga manusia pertama yang pertama kali mencapai ketinggian itu. Tetapi itu belum cukup. Kendati begitu Tenzing mencoba menyakinkan diri bahwa apa yang telah dilakukan mereka adalah salah satu usaha besar. Dia juga gembira telah menemukan seorang sahabat.

Musim gugur tahun ini juga pendaki pendaki Swis yang penasaran kembali mengajak Tenzing melakukan ekspedisi ke Everest. Tak ada tempo lagi, sebab tahun depan pemerintah Nepal telah memberikan ijin kepada Inggris untuk melakukan hal yang sama. Tetapi cuaca tak sebaik sebelumnya. Western Cwm yang mereka juluki lembah sunyi saat itu siang dan malam gemuruh oleh angin macam angin menghancurkan ekspedisi tsb. Bencana demi bencana menimpa mereka. Mula mula mereka dihujani bongkahan es. Seorang Sherpa Mingma Dorje, ketika tengah mendongak keatas mukanya terhajar bongkahan es dan pingsan. Ketika Mingma Dorje tengah diturunkan, terjadilah bencana kedua. Tiga orang Sherpa terpeleset  dan jatuh beberapa puluh meter ke bawah. Mereka semua terluka parah. Mingma Dorje malah akhirnya tewas. Mereka mulai pesimistis, tetapi memutuskan tetap mencoba mendaki sebisanya. Nasib berkata lain mereka akhirnya kembali turun dan gagal bahkan untuk mencapi titik tertinggi  yang sebelumnya pernah dicapai Tenzing dan Lambert. Orang Swis telah merintisnya giliran Inggris yang mengecap hasilnya. Bagin Tenzing tak menjadi soal, lantaran namanya yangb terlanjur terkenal menjadi jaminan untuk terus diapakai dalam ekspedisi manapun. Tahun 1953 Kolonel John Hunt dari inggris memimpin ekspedisi mendaki Everest. Bersama Edmund Hillary, tenzing akhirnya melampau titik terakhir yang pernah dicapainya dengan Raymond Lambert. “ Sedikit diwah puncak, Hillary dan saya berhenti. Kami melihat keatas, lalu berjalan kembali. Tali yang menghubungkan kami panjangnya 10 tetapi saya mencekal sebagian besar gulungan tali itu sehingga jarak kami hanya sekitar 2 m saja. Kami berjalan perlahan dan mantap. Disitulah kami, Hillary melangkah duluan dan saya menyusul setelahnya,” demikian tulis Tenzing. Tanggal 29 Mei 1953 untuk pertama kalinya “ Atap Dunia “ berhasil dicapai . Tenzing akhirnya mewujudkan impiannya setelah berusah sebanyak tujuh kali. Di puncak dia teringat sosok sahabatnya yang mengeram macam beruang. “ Ca va  bien, Tenzing, Ca va bien!” Tenzing mengencangkan syal merah yang diberikan Lambert di lehernya …..

Sumber : Norman Edwind Intisari edisi no: 334 Mei 1991