HIDUP MENITI TEBING BERSAMA MAO

“Sosok Mao Zedong yang nyaris melegenda, membuat orang lupa bahwa betapa ia sebenarnya hanyalah manusia biasa. Lewat The Private live of Chairman Mao, dr. Li Zhisui seperti membuka tabir lebar lebar bagi dunia untuk melongok kehidupan pemimpin besar Cina itu. Dr. Li yang kini tinggal di AS menegaskan bahwa buku yang ditulis berdasarkan ingatan ini bukanlah biografi Mao, melainkan catatan tentang apa yang dilihat, didengar dan dialaminya selama 22 tahun menjadi dokter pribadi Mao”

Ketika Mao menghembuskan nafas terakhirnya tengah malam 9 September 1976 pada usia 83 tahun, Li terus terang tidak merasa sedih. Selama melayani Mao boleh dikata hidupnya berat, penuh bahaya yang membutuhkan kewaspadaan terus menerus. Diakhir hayatnya, kondisi kesehatan Mao sudah benar benar runyam. Akibat rokok paru parunya amburadul. Bronkhitis radang paru paru dan emphysema/ pembengkakan bergantian merongrong. Batuk batuk menyebabkan dinding paru paru kirinnya jebol sampai berlobang tiga. Untuk dapat bernapas dengan nyaman, ia sampai harus berbaring miring ke kiri. Seiring pula ia harus dibantu topeng oksigen atau mesin respirator  buatan Amerika kiriman Henry Kissinger tahun 1971. Penyakit Lou Gehrig lambat tapi pasti melumpuhkan kemampuannya berbicara dan menelan makanan. Dengan sendirinya bernafas pun jadi semakain sulit. Namun lemah jantunglah yang menamatkan riwayat Mao. Ia mendapat iga kali serangan jantung pada bulan Mei, Juni dan awal September menjelang kematiannya.

Siap Siap ditangkap

Apa yang terjadi bila seorang Mao meninggal ? Kalian harus bertanggung jawab,” ancam Jiang Qiang sang isteri. Pengalaman telah mengajarkan kepada Li bahwa ia harus selau siap bagi kemungkinan terburuk. Tak lama setelah serangan jantung ketiga, ia menyempatkan diri pulang sebentar (pertama kalinya setelah berbulan bulan) untuk mengambil jaket, celana tebal dan jubah hangat. Siapa tahu ia ditahan dipenjara tanpa pemanas ruangan. Sementara pergulatan antara kekuatan politik berlangsung, tim dokter Mao segera dihadapkan pada krisis yang tak terbayangkan sebelumnya. Politbiro memutuskan agar jenazah Mao diawetkan secara permanen. Padahal tak seorang pun mengetahui caranya. Maka Cuma berdasarkan sebuah buku, mereka coba – coba menyuntikkan 22 L cairan formaldehida ke jenazah Mao. Hasilnya wajah Mao membengkak bulat seperti bola, lehernya sebesar kepala, kulitnya mengkilat, tubuhnya mengeluarkan keringat dan telinganya caplang berat. “kalian apakan ketua sampai bertampang demikian?” keluh Zhang Yufeng sekretaris pribadi Mao yang pernah merangkap perawat sekaligus kekasih. Ia mengusulkan bagaimana dipijat saja supaya formaldehidanya biasa terperas keluar? Setelah bekerja keras dengan handuk dan kapas sampai pukul 15.00 berhasil juga tim dokter mengembalikan wajah Mao ke bentuk semula. Namun berhubung tubuhnya masih membengkak, bagian dalam jaket dan celananya mesti dirobek supaya dapat ditutup. Sekitar 24 jam setelah kematiannya, jenazah Mao selesai didandani yang kemudian dibaringkan di dalam peti jenazah dari kristal. Sementara itu terjadi pergulatan antar kelompok Jiang Qiang dan kelompok Hua Guofeng dan Wang Dongxing di pihak lain. Wang ini kepala biro pusat pengawal, belakangan menjadi wakil menteri keamanan umum yang bertanggung jawab atas keselamatan dan kesehatan para pemimpin puncak. Ia juga kepala pengawal pribadi Mao dan orang kepercayaan Mao. Namun berkat pertengkaran di tubuh politbiro pula, dr. Li terhindar dari tuduhan membunuh Mao.

Pagi Artinya Sore Hari

Sebagai komunis kredibilitas dr. Li sebenarnya pantas diragukan, keluarganya kaya turun temurun. Ayahnya malah punya posisi tinggi dalam pemerintahan Guomindang. Belakangan Li menduga, kekesalannya pada cara hidup Mao yang gemar wanita mungkin bersumber dari kebencian pada ayahnya sendiri yang juga senang berfoya foya. Ia melewatkan sekolah dan universitasnya di sekolah sekolah misi dari Amerika dan Kanada. Malah ketika usinaya 15 tahun ia sempat dibabtis. Ketika pertama kali melihat Mao dalam upacara 1 Oktober 1949 di Tianamen dimata Li yang baru berumur 30 tahun Mao bagaikan dewa. Pada usia 56 tahun rambutnya masih tebal dan hitam, Keningnya lebar dan tinggi, suaranya lantang dan tegas. Bahkan menurut pengamatan Li meskipun disanjung saentero negeri Mao tidak menampakkan sikap angkuh. Sekitar musim panas 1950 Li diangkat menjadi direktur klinik Zhongnanhai dikota terlarang. Ia bertanggung jawab atas kesehatan pemimpin puncak cina dan keluarganya. Li melamar untuk menjadi anggota partai komunis, tapi latar belakangnya tidak menunjang. Baru berbulan bulan setelah pemberitahuan pertama Li dipanggil menhadap Mao yang sedang berbaring ditepi kolam renang sambil membaca buku. Mao memang amat gemar berenang. “Saya baru saja bangun tidur. Pukul barapa sekarang?” “Setengah lima Sore” sahut Li “Oh inilah pagi buat saya. Pukul berapa biasanya anda bangun?” Menurut Li mata Mao nampak bijak, ekspresi wajahnya baik. Li merasa sedang berhadapan dengan orang besar. Si orang besar Mao sedang merokok sigaret 555 buatan Inggris dengan pipa.

Jas Sepatu Bekas dan Makanan Mao

Mao lalu berkomentar soal latar belakang pendidikan Li “Saya lebih menyukai karyawan yang berpendidikan Inggris atau Amerika. Li pula saya senang bahasa asing. Ada yang bilang saya perlu belajar bahasa Rusia tapi saya lebih suka bahasa Inggris. Anda dapat mengajari saya” Tentang pernahnya Li terlibat dalam aktivitas Guomindang dengan sederhana Mao menyimpulkan “Anda baru 15 tahun ketika menjadi anggota Masyarakat Pembaharuan Nasional. Yang terpenting adalah kesungguhan hati.” Demikian Li yang tak kunjung diterima menjadi anggota partai, dalam sekejap diselamatkan Mao, malah diangkat menjadi dokter pribadinya. Dengan asal usul yang petani, Mao mempunyai selera yang sederhana. Bila tidak sangat terpaksa, ia segan berpakaian rapi. Sebagian besar waktnya ia lewatkan ditempat tidur atau ditepi kolam renang, berjubah dan bertelanjang kaki. Kalaupun ia berpakaian rapi yang dikenakannya hanyalah pakaian lama dan sepatu kain usang. Jas Mao dan sepatu kulit di kenakan hanya dalam upacara resmi dan kenegaraan. Sepatu kain yang masih baru biasanya diapakai dulu oleh salah satu pengawalnya sampai enak. Begitu pun hidup Mao masih amat megah. Komplek tempat tinggalnya terletak di Jantung tempat tinggal para kaisar, diantara danau tengah dan selatan menghadap Selatan. Sekilas Zhongnanhai tidak dijaga, padahal pengawalannya berlapis lapis dalam pola lingkaran yang konsentris dengan titik pusat Mao sendiri. Keberadaan Mao selalu dirahasiakan secara ketat. Yang tahu Cuma para pemimpin eselon teratas. Bila ia berkunjung keluar Zhongnanhai untuk acara acara resmi mobilnya selalu diparkir ditempat yang tersembunyi, supaya orang tidak mudah melihat plat nomornya. Begitupun platnya sering diganti. Begitu pula sistem keamanan terhadap makanannya. Sejak Mao kembali dari Moskow diawal tahun 1950 dua orang spesialis makanan dari soviet ditempatkan di Biro Pengawal Pusat untuk mengawasi pasokan bahan pangan bagi pemimpin seperti sayur mayor, daging, ayam, dan telur hasil dari daerah pertanian Jushan. Koki pun di haruskan mengirim daftar belanja ke Departement Pemasokan Biro Pengawal Pusat. Instansi inikemudian meneruskan ke Jushan. Lalu Jushan mengirim bahan makanan ini ke satasiun pemasokan untuk di cek di laboratoruium serta menganalisis kesegaran dan nilai gizinya, lainnya menganalisis kemungkinan adanya racun. Setelah itu makan dicicipi sebelum dihidangkan dimeja Mao. Cara yang mahal ini ternyata berlaku untuk semua pemimpin teras, malah ditiru pula oleh para pemimpin tingkat propinsi.

Rapat Bila Insomnia

Diawal masa tugasnya dr. Li tidaklah sibuk karena kondisi kesehatan Mao masih cukup bagus. Namun pada tengah malam 30 april 1955 ia dipanggil. “Ketua sudah dua kali minum obat tidur tetapi tak juga dapat tidur” demikian menurut pengawal. Itulah pertama kalinya Li masuk kekamar tidur Mao yang hamper seluas ruang dansa. Perabotan lebih bergaya barat daripada cina, kontemporer dan fungsional. Keempat jendelanya tertutup rapat dengan gorden beludru yang berat. Gorden tidak pernah dibuka sehingga dari dalam kamar Mao sulit membedakan antara siang dan malam. Mao sedang berbaring diranjang kayu amat besar dibuat khusus oleh tukang kayu Zhongnanhai. Dua pertiganya penuh buku berserakan. Salah satu pinggirannya, di bagian Mao sedang berbaring, dibuat lebih tinggi 10 cm dari pada bagian ranjang yang lain. Menurut info resmi, itu untuk mencegah jangan smapai Mao terjatuh. Namun bertahun tahun kemudian Li menyadari desain kusus itu lebih berhubungan dengan kegiatan seks Mao. Di sebelah ranjang ada sebuah meja persegi besar yang berfungsi sebagai meja tulis sekaligus meja makan. Mao memang paling sering makan sendiri di kamar. Bahkan, pada masa itu ia dan Jiang Qiang sudah hidup terpisah walaupun komplek tempat tinggal isterinya tidak jauh dari sana. “Ada berita apa?” Begitulah cara Mao memancing informasi. Ia mengharapkan anak buah menceritakan secara terinci dengan siapa mereka bertemu dan apa saja isi pembicaraan mereka. Ia juga membuka peluang bagi para anak buah untuk saling mengkritik. Mao menuntut kesetiaan total dari anak buah dan itu salah satu caranya untuk mengontrol mereka. Santap malam Mao yang disajikan itu banyak mengandung lemak. Li belakangan banyak mengkritik pola makan itu, tapi Mao sudah terlanjur gemar makanan berlemak tinggi sejak kecil. Lalu Mao menawari Li hidangan pare dengan lada “bagaimana rasanya?” “Wah pahit dan pedas” ujar Li  Mao tebahak bahak “ semua orang harus pernah merasakan kepahitan, apalagi orang seperti anda. Mungkin anda belum pernah makan yang pahit pahit.” Chi ku yang artinya “makan yang pahit” bias berarti merasakan penderitaan” Li sendiri bingung yang mana yang dimaksudkan Mao. Apakah ia sedang bicara soal makanan, ataukah ia menyindir dr. Li yang hidup serba enak karena berasal dari kelas atas? “ saya belum pernah makan pare tapi enak juga” sahut dr.Li Belakangan ini Li mengetahui Mao menuntut orang di sekitarnya untuk ber Chi Ku. Pemimpin cina yang berasal dari kelas petanipun menurut Mao telah terlalu manja. Dalam tahun yahun berikutnya dr. Li dan pimpinan puncak Cina memang merasakan lebih dari sekedar kepahitan.

Khasiat Mahyong

Menurut Mao Cina telah memberikan sedikitnya 3 sumbangan besar bagi dunia: Pengobatan ala Cina, Novel Mimpi Kamar Merah karya Cao Xueqin, dan Permainan Mahjong sejenis judi yang membutuhkan strategi jitu. Walau Mao pemain Mahjongyang hebat ia menimba keahlihan strateginya dari buku kuno seni perang karya Sun Zi, buku buku sejarah Cina dan roman klasik Kisah Tiga Negara. Namun daya tarik mahjong bagi Mao sebenarnya bukan Cuma untuk mengasah kemampuan strategi. Karena ia bermain Mahjong dengan gadis gadis rupawan, sementara tangan sibuk mengocok kotak kotak mahjong biasanya kakinya pun sibuk main dibawah meja senggol sana senggol sini. Sudah sejak awal perkenalan mereka, mao memang memperingatkan Li “Jangan pikir saya orang suci. Saya bukan orang suci, bukan pendeta dan tak mau jadi pendeta.” Tentang pengobatan tradisional Cina, tak diragukan lagi Mao salah satu penganjurnya. Lucunya Meski kita harus mempromosikan  pengobatan Cina saya sendiri tidak percaya. Saya belum pernah minum obat Cina. Aneh ya,” katanya. Meski belakangan ia merasakan juga faedah pengobatan tradisional Cina yang dipromosikan itu. Sejak itu tak terhitung seringnya dr. Li mengobrol tengah malam dengan Mao. Irama hidupnya berubah mengikuti pola sang ketua. Buku buku teks faforit Mao dari sejarah sampai filsafat harus dibacanya. Pendek kata saat insomnia menyerang, itulah saatnya Mao mengadakan rapat atau memanggil dr. Li, tak jarang pada pukul 03.00 dini hari. Boleh dikata penyakit ini pula yang paling memusingkan dr. Li sepanjang kariernya melayani Mao. Insomnia yang dideritanya berasal dari 2 macam penyebab, jam biologis yang memang berbeda, dan neurasthemia sejenis gangguan jiwa akibat rasa tertekan yang amat umum di cina. Ini penyakit khas Negara komunis, sebagai hasil dari terperangkapnya orang dalam suatu system tanpa ada jalan keluar. Tidak hanya Mao tapi Jiang Qing pun mengalaminya. Namun Neurasthemia yang dialami Mao bersumber pada kekhawatiran yang terus menerus bahwa para pemimpin lain tidak setia dan bahwa Cuma sedikit saja orang dalam yang dapat dipercaya.  Dimasa masa pergolakan politik  gejala ini biasanya menggila sampai tidurnya terganggu selama berminggu minggu bahkan berbulan bulan. Selama bertahun tahun dr. Li mengaku tidak berhasil pula mendidik Mao dalam soal kesehatan. Cara berfikirnya tetap saja kurang ilmiah. Misalnya saja keluhan yang paling menggangu Mao adalah impotensi. Ketika Li mulai bekerja pada Mao tahun 1955, usianya sudah menginjak 62 tahun dan kadang kadang ia sudah mengalami impotensi. Dokter pribadi sebelum Li sering menyuntikkan sari tanduk rusa tanah obat perangsang tradisioanal Cina. Ketika dr. Li yang berpendidikan barat memperingatkan dia perihal efek samping sari tanduk rusa yang belum ketahuan, meluapalah kekesalannya,” kalian dokter dokter ini yang satu bilang begini, satu bilang begitu. Saya hanya akan mendengar 70% saja apa kata kalian. Memang Mao tak lagi meemaksa minta suntikan sari tanduk rusa, namun ia tetap mempraktekkan “obat manjur”yang konon dipraktekkan para kaisar cina yaitu bermain dengan banyak peraan. Akhirnya Li menyimpulkan gejala impotensi Mao itu hanya psikologis. Gejala itu paling sering muncul saat ia menghadapi gejolak polotik

Pandai Bersandiwara

Bagi seorang Mao kesehatan ternyata juga alat yang amat efektif untuk mengetes suhu politik atau berkelit saat diserang, kesehatan Mao dan kodisi politik cina sering kali amat berhubungan erat. Misalnya saja saat hubungan Cina dan Sovyet amat buruk pada tahun 1963. Setelah berlatih keras beberapa kali didepan dr. Li dan staff lainnya, ia memanggil dubes Uni Sovyet untuk mengunjunginya di kamar tidur. Dengan  berselimut tebal  bicara susah payah, Mao nampak benar benar sakit. Sandieara hebat itu dilakukannya untuk memancing reaksi Sovyet bila ia benar benar meninggal. Sandiwara macam itu juga pernah ia mainkan didepan wartawan AS Edgar Snow yang menurut Mao adalah agen CIA. Sudah tentu Mao mempunyai kiat tersendiri dalam menghadapai lawan lawan politiknya. Salah satunya,” Biarkan musuh menyerang dulu, baru dibalas,” ujarnya Seperti makanan obatan untuk Mao pun harus meleati prosedur pemeriksaan yang ketat. Agar lebih aman resep untuk Mao selalu ditulis atas nama Li Desheng. Bagaimanakah pribadi Mao yang sebenarnya?”Saya adalah Heshang Dasan, Wufa Wutian,” Demikian ia pernah mengatakan kepada Edgar Snow. Dengan itu Mao hendak mengatakan bahwa ia adalah manusi yang tidak tinduk pada hokum manapun, entah dari manusia entah dari dewa. Demikian hal ini Wufa Wutian lebih tepat diterjemahkan tanpa hukum tanpa tuhan. Kenapa Li sendiri ia suka mengatakan,”Saya ini lulusan Universitas Kaum Pembangkang.” Ia memang pemberontak tulendan selalu harus pegang control atas apa saja. Tak secuil pun kejadian di Zhongnanhai yang terlepas dari kendalinya, termasuk pakaian yang mesti dikenakan istrinya. Terhadap kerutinan, protocol dan ritual Mao jelas tak suka. Bila ia pergi berjalan jalan rute yang dipilihnya selalu berbeda. Dalam kehidupan pribadi atau urusan Negara, ia selalu mencari jalan baru yang belum pernah dicoba. Mao tidak mempunyai kawan. Bahkan secara agak ekstrim dr. Li menggambarkannya sebagai orang yang tidak mempunyai perasaan, tak mampu mencintai, bersahabat atupun merasakan kehangatan. Ia jarang melewatkan waktu bersama istrinya atau anak anaknya. Li sendiri menduga barangkali ini diakibatkan oleh terlalu banyaknya penderitaan manusia yang telah ia saksikan dan rasakan. Isteri pertamanya Yang Kaihui dan dua orang saudara laki lakinya dieksekusi Guomindang. Anak laki lakinya yang tertua tewas dalam perang korea. Beberapa anaknya hilang dalam Long March tahun 1930an. Ia tidak pernah mengutarakan emosi tentang anggota keluarganya yang hilang itu. Tentang korban tewas biasanya ia hanya mengatakan, “ Harus ada korban dalam sebuah revolusi,” Karena kata katanya yang serba tanpa emosi pula ia pernah membuat Jawaharlal Nehru Shock. Pada bulan Oktober 1954 dalam pertemuannya dengan perdana menteri India itu Mao mengatakan “Tidak perlu takut pada bom atom. Rakyat Cina amat banyak, tak mungkin dapat dimusnahkan oleh bom atom. Kalu orang lain dapat memjatuhkan bom atom saya pun dapat. Kematian sepuluh atau dua puluh juta orang tak perlu dipikirkan benar.

Mengapa mesti diatas jempol

Pada Nopember 1957 Uni Sovyet merayakan hari jadi yang ke-40. Khrushchev pemimpin Negara beruang itu mengundang para pemimpin Negara komunis dunia, termasuk Mao yang baru sekali berkunjung ke moskowa. Kampanye anti kanan di Cina sedang hangat hangatnya dan Mao rupanya juga ingin pamer di Sovyet. Sebagai penanggung jawab kesehatan dr. Li bertugas menyiapkan obat obatan, Bersamanya juga berangkat dokter untuk seluruh delegasi, Wu Xujun kepala perawat, dan Liu Huimin dokter ahli pengobatan Cina yang pernah mengobati Mao. Untuk menjaga segala kemungkinan dr. Liu sampai membawa lebih dari tiga peti besar ramuan yang baunya sampai kemana mana. Nikita Khrushchev yang menyambut kedatangan Mao di Bandar udara, bersikap amat ramah dan hormat pada Mao sampai ia mengantar Mao ke istana Kremlin dimana ia menginap dan mempersilahkan untuk beristirahat setelah konferensi selesai. Namun sejak awal Mao tampak dingin terhadap Khrushchev. Ia kesal karena Khrushchev menyerang Joseph Stalin pendahulunya. Ketika dijalan jalan masyarakat tampak lesu ia berkomentar” Rupanya Khrushchev kehilangan dukungan setelah setelah ia berkampanye melawan Stalin” Tidak heran rakyatnya kehilangan semangat”. Mao tinggal diistana bekas kediaman ratu Yakaterina dengan koridor mewah dan ruang besar penuh barang antik. Tidak seperti biasanya. Mao sekali ini tidak membawa ranjang sendiri namun ia tetap bersikeras menggunakan WC jongkok bukan WC duduk. Untuk tamu agung ini khusus disediakan 2 koki Rusia, tapi Mao hanya mau makanan Hunan hasil karya kokinya sendiri. Meskipun ia sendiri suka sekali dansa ala barat, dalam soal apresiasi balet pengetahuan Mao masih minim. Itu terbukti ketika ia diundang Khrushchev menonton Swan Lake. Datang terlambat setelah adegan kedua ia langsung merasa bosan. Mao memang belum pernah menonton balet ataupun diperkenalkan dengan tari kebangsaan Rusia itu. “Saya tidak akan bisa menari dengan cara seperti itu” katanya kepada Khrushchev “ Bagaimana dengan Anda?” Pemimpin Sovyet itu langsung menjawab bahwa iapun tidak bias menari diatas ibu jari seperti itu. Pada akhir adegan kedua, Mao meninggalkan tempat pertunjukan. “ Mengapa mereka pasti menari diatas jempol?” tanyanya kepada dr. Li

Repotnya melayani Jiang Qiang

Sebagai dokter pribadi Mao kadangkala dr. Li harus pula berurusan dengan isterinya yang super rewel. Waktu itu Jiang qiang  belum lama mendapatkan pengobatan sinar kobalt hingga 60 kali untuk kanker rahimnya. Tak lama setelah pulang dari Moskow, Mao, Jiang Qiang, dan rombongan menghadiri konferensi partai di Nanning kota kecil didaerah otonomi Guangxi. Kota itu kaya dengan pohon jeruk dan anggur yang sedang berbunga. Sungguh indah. Penduduk wanitanyapun dari minoritas Zhuang mengenakan gaun yang berwarna warni. Moa dan Jiang Qing ditempatkan di dua gedung terpisah dikomplek Guesthouse. Letaknya dibukit yang amat teduh dengan pepohonan. Namun apa mau dikata meski Mao nampak puas, tidak demikian dengan Jiang Qing. Dengan belum adanya system pemanasan terpusat, pada sore hari ketika cuaca dingin para pembantunya menyalakan mesin pemanas listrik sampai Jiang Qing kepanasan. Jika pemanas dimatikan, ia kedinginan. Pejabat daerah pun repot mengirim orang ke Hongkong untyk mencari mesin pemanas yang lebih baik. Namun persoalan lain timbul dipenginapan Nanning tidak ada pancuran. Padahal Jiang Qing terbaisa mandi dengan pancuran sebelum tidur. Sebagai gantinya perawat mengguyurkan air ketubuhnya. Celakanya air dari wadah yang terakhir biasanya terlampau dingin. Jiang Qing menuduh perawatnya sengaja membuatnya sakit. Kembali pejabat local mengirimkan utusan ke Hongkong  untuk membeli peralatan Shower. Namun Jiang Qing ogah pindah ke hotel, supaya pancuran dapat dipasang. Demikianlah dr. Li dibuat pusing tujuh keliling oleh Jiang Qing. Karena kesal dr. Li mengadukan permasalahan ini kepada Mao. Apa kata Mao? “Jiang itu macan kertas. Anggap enteng saja” Ketika masalah pancuran selesai, ganti Jiang Qing mengeluh soal bising. Maka semua petugas catering yang melayani Mao dan isterinya disuruh pindah. Arus lalu lintas disekitar bukitpun dihentikan demi Jiang Qing. Walaupun terapi radiasi bagi Jiang Qing berhasil baik namun isteri Mao ini tetap merasa menderita kanker. Ia mengeluh kupingnya berdenging seperti kemasukan serangga dan ia pun tak tahan sinar, suara atau angin. Juga hilang selera makannya. Tim dokter menilai keluhannya itu Cuma soal psikologis. Agar lebih tenag Qing diaanjurkan untuk menonton TV, mendengarkab music, menghadiri pesta dansa dan konser serta mencoba latihan Tai ji Chun, seni bela diri tradisional, walau begitu Qing tetap merasakan gangguan misalnya gesekan kain baju pun mampu mengacauakan konsentrasi nyonya Mao ini. Akibatnya Qing sering berteriak teriak. Bukan itu saja, warna merah jambu dan coklat pun, katany saling mengganggu juga menyakitkan matanya. Maka dinding dan perabot sekitarnya, diberi cat warna hijau muda yang sangat pucat. Ulah Qing ini mengakibatkan seringnya perawat mengadu ke dr. Li  denga berlinang air mata. Pernah dalam sebulan perawatnya berganti 5 – 6 kali. Lama kelamaan diketahui bahwa Jiang Qing berganti ganti perawat bukan karena tidak puas dilayani, tapi karena khawatir Mao akan kacantol mereka.

Puisi Ampuh Mao Untuk Isterinya

Kehidupan Mao tergantung pada kekaguman orang – orang lain terhadapnya. Ia amat membutuhkan  kasih sayang dan pengakuan terutama dari kaum wanita. Dilain pihak keyakinan sebagai pengnut Taoisme membuatnya punya pembenaran untuk memanjakan setiap dorongan kelakilakiannya. Baginya sek tidak hanya sekedar kesenangan, melainkan sarana untuk memperpanjang umur. Itulah sebabnya banyak orang mengatakan, perilaku seks Mao berlebihan kalau tidak boleh dibilang Hiperseks. Sudah terlalu sering dr. Li menyaksikan sendiri Mao bersukaan dengan wanita wanita muda, bak di rumah ditempat peristirahatan nrgara maupun digerbong kereta api ketika dalam perjalanan diatasnya. Dipihak lain nama besar, pengaruh, serta kharisma Mao menjadi magnet tersendiri bagi para wanitanya, Klop sedah kisah Mao dalam bingkai peribahasa Harta, Tahta, Wanita, Kehidupan Mao yang berposisi sebagai aktor sentral menuntut akting dan membuat Mao harus pandai pandai membawa diri di depan isterinya Jiang Qing. Ia tahu bagaimana menjaga perasaan isterinya yang sering kali kesal melihat dirinya lebih sering bepergian dengan wanita lain. Mao tahu soal ini, untuk meredam kemarahan sang isteri, Mao pernah menulis puisi romantis, seperti ini: “ Ditengah temaramnya hijau lumut senjakala, Kulihat pucuk – pucuk pinus yang runcing temaram dibawah gejolak awan. Pujaan para dewa sudah lahir di surga, pancaran sinar kecantikan menyapu puncak ….” Puisi ini tentunya menyenagkan hati Jiang Qin. Tak aneh kalalu bait romantis ini dibawa bawa Qing dan diperlihatkan kepada siapapun yang ditemui. Lain halnya dengan si pemberi puisi. Setelah berhasil memuaskan hati isterinya, Mao lantas menghilang kedalam dunia pribadinya pergi berenag disbuah villa modern dan tempat rahasia dengan anggota elit partai di Jiangxi. Tak luput membawa gadis perempuan sanatorium. Terkadang agar kepergiannya tidak selalu mencolok dan menarik perhatian Mao bersusah payah dan mlipir – mlipir menuruni pegunungan untuk kemudian berenang di sungai Yangtze, Jiujiang utuk masuk vila dari belakang.

Ribut Gara – Gara Wanita

Hubungan Mao dengan para gdis tidak selalu berjalan mulus. Pasalnya benturan dua kepentingan, Pasalnya pendamping ini sebenarnya tidak pernah mencintai Mao dalam arti yang sesungguhnya. Mereka merasa perlu mencintai Mao, karena pria ini adalah figur pemimpin besar, guru dan penyelamat. Hampir semua menyadari hubungan mereka dengan Mao itu sifatnya temporer. Dilain pihak pada masa pengabdian itu mao menuntut kesetiaan total masing masing wanita tersebut. Ada semacam aturan tak tertulis. Meskipuk tidak ada ikatan resmi dengan Mao kalau ada diantara wanita itu yang ingin menikah dengan pria lain, ia harus minta ijin dari Mao terlebih dahulu. Biasanya kalau sudah tidak dipakai lagi barulah Mao memberi ijin. “Bapak ketua memang orang yang menarik” aku salah seorang wanita muda piaraannya.” Tetapi ia tidak bisa membedakan antara cinta seseorang kepadanya sebagai seorang pemimpin dan cinta seorang wanita kepada pria. Apakah itu tidak lucu?” Suatu kali seorang dayangnya minta ijin untuk menikah tetapi Mao menolak. Semakin ngotot wanita itu minta ijin, sikap Mao tak berubah. Akhirnya karena kesal , si wanita marah dan menuduh Mao seorang maniak korup yang gila wanita. Kalu tidak diijinkan menikah, siwanita mengancam akan membeberkan skandal seksnya dengan Mao ke dunia luar. Akhirnya dr. Li jugalah yang harus turun tangan menengahi perkara pelik ini. Dengan segala pengertian dan demi menjaga nasibnya sendiri maupun repuatsi Mao didepan rakyatnya, akhirnya si wanita mau menarik kembali ancamannya dan meminta maaf. Sang ketua mau menerima permintaan maaf. Namun tetap tidak mengijinkan wanita itu untuk menikah. Dan baru tahun 1966, seiring dengan dimulainya Revolusi Kebudayaan si wanita berhasil menikah. Sementara itu perhatian Mao sudah berpindah ke wanita lain. Sikap Mao yang masih peduli dan menghormati leluhurnya sungguh diluar gambaran orang banyak. Sekali waktu Mao mengunjungi kampung kalahirannya di desa Shaoshan, di Hunan. Dimuka makam orang tuanya Mao ternyata memberikan penghormatan secara tradisional.

Sekilas Biodata Mao

Nama              : Mao Zedong
Kelahiran    :
26 Desember 1893 di Shaoshan, Provinsi Hunan
Keluarga      :
* Yang Kaihui (isteri Pertama) mantan putri guru  etika Mao yang dinikahi tahun  1920 di  Shanghai, melahirkan 2 orang anak laki – laki.
* Ho Zuchen (isteri kedua) menikah tahun1928 dan melahirkan 5 orang anak.
* Lan Ping alias Jiang Qin (Isteri Ketiga) artis film yang dinikahi tahun 1939.
Pendidikan    :
SD Shaoshan 1901 – 1906, SD Thongshan di Xiangxiang 1906, Sekolah Lanjutan di  Changsha 1913 -1918, Universitas Beijing 1919.
Karier               :
*10 Oktober bergabung dengan TentaraRevolusioner di Hunan.
*1924 – 1925 mengorganisasikan tentara Gerilya Komunis.
*1934 – 1935 memimpin Long March 200.000 Tentara Merah dari Jiangxi ke pegunungan  Barat Laut.
*1936 -1940 Menghabiskan waktu untuk menulis 6 buku militer             
*April 1949 memenangkan partai Komunis dan menentukan berdirinya RRC
* 1959 mundur dari jabatan presiden dan menjadi  ketua umum Partai Komunis yang tak kunjung selesai hingga akhir hayatnya.

Ayah Galak Dan Anak Tak Berbakti

Bekas kediaman Mao masih dalam keadaan seperti aslinya. Mao kemudian mengenag masa mudanya. “Ayah saya galak sekali. Ia suka memukuli anak anaknya. Suatu kali ia berusaha memukul saya, tapi saya keburu melarikan diri. Dalam persembunyian saya melihat ia celingak celinguk mencari saya disekitar kolam ini. Ia memaki saya sebagai anak tak berbakti. Tapi saya katakan bahwa seorang ayah  yang galak akan melahirkan anak yang tak berbakti,” begitu cerita Mao.

Berbanding terbalik justu Mao mengatakan ibunya wanita lembut selain siap dan rela membantu siapa saja yang membutuhkan pertolongan. Bersama ibu dan adik lelakinya, Mao seringkali bersatu padu untuk menghadapi ayahnya. Tahun 1962 adalah titik balik politik bagi Mao. “Konferensi 7.000 kader” yang dimaksudkan untuk berjalan secara demokratis “ ternyata menjadi ajang pelampiasan uneg – uneg para kader akan kebijakan partai yang notabene adalah kebijakan Mao sendiri. Liu Shiaoqi yang waktu itu diserahi jabatan Ketua Konferensi malah melancarkan kritik pedas akan kebijakan lompatan jauh ke depan Mao. Memang akibat program tersebut perekonomian Cina benar benar sebgsara. Kekacauan pertanian yang emnurut Mao disebabkan gangguan cuaca disanggah habis – habisan oleh Liu. Sementara Mao kesal, banyak kader yang sependapat dengan Liu. Konferensi berlangsung bertele – tele sampai sebulan lamanya. Sementara itu Mao malah lebih sering tinggal di kamar  118 Balai Rakyat Agung, sambil ditemani nona nona cantik. Setiap hari ia cukup membaca risalah pertemuan yang sedang diadakan di gedung yang sama. Menginjak bulan september, saat diadakan sidang pleno ke 10 pembersihan makin diwujudkan. Mao menunjuk Kang Sheng sebagai pimpinan partai. Dimata banyak orang kang Sheng adalah tokoh jahat yang menakutkan, benar saja. Begitu memegang mandat, Kang melakukan pembersihan besar besaran. Ratusan korban jiwa jatuh. Target utama Mao sesungguhnya orang orang  macam Liu Shiaoqi, Deng Xiaoping. Tapi rekayasa atas mereka sangatlah sulit. Sementara Liu terus meneris menjengkelkan Mao, a.l dengan memberikan peluang dan kekuasaan pada isterinya, Mao sendiri memberikan peluang kepada Jiang Qing.

Dengan Ny. Sukarno

Pertama kali Jiang Qing muncul didepan umum pada 29 September 1962 ketika menyambut kedatangan Ny Presiden Sukarno. Dalam foto Mao berjabat tangan dengan Ny. Sukarno sementara Jiang Qing yang berpakain jas ala barat berdiri diantara mereka sambil tersenyum lebar. Pemunculan Jiang Qing di depan umum ini mendapat perhatian besar dari khalayak. Bagi dr. Li sendiri semakin aktif Jiang Qing di percaturan politik, semakin ringanlah tugasnya. Karena Jiang Qing semakin jarang mengeluh sakit dan ia makin jarang dipanggil untuk melerai pertikaiannya dengan para perawat. Jiang Qing menyerukan kesadaran akan budaya merenovasi Beijing Opera Theater, dll. Menurutnya dunia pentas Cina terlalu kanan. Banyak naskah yang tidak cocok bagi semangat Komunisme. Inilah embrio pemikiran yang kemudian melandasi Revolusi Kebudayaan. Jiang Qing bahkan nyaris menemukan cara untuk menyingkirkan dr. Li “musuh bebuyutannya, lewat sebuah opera yang atas usulan dr. Li di tonton juga oleh Mao. Tujuannya untuk mencap dr. Li “kanan” tidak berhasil. Karena si dokter masih dilindungi Mao dan Wang Dong Xing. Peran lebih besar yang diberikan kepada Jiang Qing boleh jadi bukannya kebetulan semata, dilihat dari kacamata kebutuhan seks Mao yang semakin meningkat. Seperti ada semacam pengertian diantara keduanya. Akhir tahun 1965 situasi makin buruk. Emapt tokoh dicopot karena dinilai anti Mao. Tanpa disadari, rekayasa politik Deng Xiaoping dan Liu Shiaoqi telah sampai ke lapisan tengah partai yang cukup berpengaruh. Walhasil keputusan Mao tak 100% dipatuhi anggotanya. Partai pun pecah. Saat ulang tahun ke 72, 26 Desember 1965 kondisi kesehatan Mao memburuk. Bukan oleh sakit alamiah, melainkan karenan insomnia dan paranoia. Ia merasa selalu dikejar kucing hitam besar, dan ada yang mengintai perbuatannya dengan sekertaris  gelapnya. Pada lain pihak Jiang Qing makin asyik dengan ambisi politiknya. Ia ingin mewujudkan kampanye kebudayaan menjadi sebuah revolusi, agar menyentuh akar karakter bangsa. Saat yang diambil 16 Mei 1966 dengan kelompok inti yang disebut Group Kecil Revolusi Kebudayaan. Yang mengagetkan, personelnya dikenal sangat kiri. Susunan ini agaknya sebuah permaianan baru. Dari pembicaraan dengan Mao dr. Li segera tahu, Mao sendiri yang membuat skenario. Akhirnya 18 Juli 1966, Mao kembali memegang kendali Revolusi Kebudayaan. Pada 29 Juli 1966, kepanglimaan Mao terbukti. Didahului dengan kekacauan massa dan demontrasi mahasiswa, ia menampakkan diri di Balai Agung Rakyat. Liu Shiaoqi didampingi Deng Xiaoping, berpidato mengakui kesalahan. Massa mencemooh. Sebaliknya kepada Mao mereka berteriak “Hidup Ketua Mao! Hidup ketua Mao”. Dua hari kemudian Mao mengumpulkan mahasiswa yang digerakkan Tentara Merah, yang menyatakan diri sebagai revolusioner sejati. Mao membenarkan bahwa petinggi partai telah melakukan kesalahan. “ Saya datang untuk mengambil alih, mengembalikan segala fungsi yang tak jalan,” katanya. Merasa mendapat dukungan dari Mao, Tentara Merah menggantikan kekuasaan Kelompok Kecil Revolusi Kebudayaan. Mereka menggrebek setiap rumah untuk membersihkan masyarakat dari unsur unsur kontrrevolusi serta borjuasi politik. Balas – membalas terjadi. Seluruh Cina boleh kacau, tapi Mao tetap orang kuat yang setiap saat bisa memainkan buah caturnya.

Sumber : Intisari edisi Februari 1995 No: 379 XXXII