PASPAMPRES : Pasang Badan Demi Presiden

Mengamankan Sukarno sampai SBY sejak Bung Hatta hingga Boediono. Praktis 24 jam sehari dengan motto ” Setia Waspada”. Tapi ada juga anggota yang kecolongan sampai harus dipulangkan ke kesatuan asal seperti pada “kasus nyelonongnya” Letjen TNI Prabowo Subianto yang hendak menemui Presiden Habibie di Istana Merdeka. Dizaman presiden Soekarno gangguan keselamatan presiden sering terjadi. Dimasa Soeharto Mayjen TNI Suwandi sampai terpung apung dilaut saat harus menyelamatkan Suharto yang disergap badai ketika sedang memancing di Perairan Pulau Tunda

logo Paspampres "setiawaspada"

logo Paspampres "SetiaWaspada"

Senin 14 Mei 1962 sejak pagi buta, beragam warga masyarakat mulai berdatangan memenuhi halaman tengah istana Merdeka – Istana Negara Jakarta. Hari itu presiden Sukarno dan para tamu VIP akan melakukan sholat berjamaah  merayakan Idul Adha tahun 1381 H. Melihat hadirin semakin menyemut, perasaan Mangil Martowidjojo justru tambah gelisah. Komandan pasukan Pengawal Pribadi Prsiden sadar akan tugasnya”…..bertindak sebagai pagar hidup untuk melindungi keselamatan Presiden”. Ini artinya apapun dan bagaimanapun keamanan Presiden mutlak harus bisa dia jamin. Tugas yang sudah dilakukannya sejak proklamasi kemerdekaan dan saat itu segera diuji. “Malam sebelumnya sudah ada info A1 dari Kapten CPM Dahlan, Komandan Pengawal Istana. Isinya gerombolan DI sedang berusaha menyusup untuk membunuh Bung Karno,” kenang mendiang Mangil Martowidjojo, perwira polisi kelahirin Wonogiri. Infonya sudah jelas, tetapi dimana dan bagaimana bentuk serangan, tak ada keterangan tambahan.”Semua mikrofon dan pengeras suara, tempat presiden akan berpidato saya periksa ulang. Seluruh kabel yang sudah terpasang saya bongkar dan teliti, semua clear. Waktu itu belum ada detector pelacak logam, terpaksa semua hadirin begitu masuk lingkungan istana, kami geledah. Menilai situasinya masih terlalu rawan, karena penyusup belum ketemu, Mangil memutuskan tidak ikut sholat. Bersama Sudiyo, wakil saya, kami duduk enam langkah menghadap Bung Karno, sambil terus menerus pasang mata.”Kecuali itu ada 5 polisi pengawal pribadi, yang ditugaskannya salat disekeliling presiden. Ketika jamaah sedang dalam posisi akan rukuk, mendadak dari arah belakang presiden sekelebatan tampak seseorang berdiri sambil mengacungkan pistol. Mangil bersama Sudiyo segera meloncat, menyergap Bung Karno. “Saya tak mau ambil resiko.

Sementara itu Sudarso, yang bertugas dibelakang Presiden, melihat gerakan saya, langsung merangkul Bung Karno. Kesigapan para pengawal pribadi Bung Karno sangat menakjubkan . Sehingga begitu bunyi tembakan terdengar, Bung Karno sudah langsung dijatuhkan, tertutup badan Mangil dan Sudiyo. Peluru melesat, menyerempet imam salat K.H Zaenul Arifin dan Ketua DPR-GR K.H. Idham Cholid, yang sebelumnya duduk di kanan-kiri presiden. Sebelum tembakan kedua sempat meletus, agen polisi Soedrajad dari posisinya dibelakang presiden, segera berbalik serta megeluarkan pistol. Sayang dia lebih dulu kena tembakan di dada. Begitu pula Soedarso, kena serempet peluru. Tetapi sambil berlumuran darah , dia nekad menerjang si penembak, nyaris berbareng dengan segapan Sribusono dan Musawir. Mereka bertiga kemudian merebut senjata calon pembunuh. Sambil setengah berlari. Mangil menyeret Bung Karno untuk diamankan diruang samping kanan istana, dijaga anggota polisi dengan senapan siap tembak. Mangil masih sempat melirik kebelakang, “Saya lihat Sudiyo mengacung acungkan pistol sambil berlari mundur, …..untuk mencegah hadirin mengukuti.” Percobaan pembunuhan terhadap presiden Sukarno hari itu gagal berkat kesigapan para pengawal pibadinya. Menurut catatan diantara keempat presiden Indonesia, Sukarno, Suharto, B.J Habibie dan Gus Dur, keselamatan Bung Karno paling sering mengalami gangguan. Kecuali peristiwa Idul Adha diatas Bung Karno juga pernah dibunuh lewat lemparan granat disekolah Cikini serta ditembak oleh Letnan Daniel Alexander Maukar dari pesawat terbang yang terbang rendah diatas Istana Negara. Dua kali percobaan pembunuhan juga pernah terjadi, ketika presiden Sukarno sedang berkunjung ke Makasar.

Lahirnya Resimen Cakrabirawa

Peristiwa Idul Adha kemudian dikaji secara cermat oleh pemerintah. Menyadari kemungkinan dimasa mendatang peristiwa serupa bisa terulang lagi, dicapai kesepakatan pengamanan terhadap presiden akan ditangani secara serius. Sesudah melakukan studi banding ke Jepang dan AS, tim yang diketuai oleh Mayor CPM Soekotjo Tjokroatmodjo menyarankan pembentukan satuan khusus untuk mengamankan presiden. Terbentuklah Resimen Tjakrabirawa, pasukan gabungan dari unsur Raiders Angkatan Darat, KKO Angkatan Laut, PGT Angkatan Udara serta Brimob Kepolisian. Sebagai Komandan ditunjuk Brigjen Mohammad Sabur, waktu itu ajudan senior presiden. Perjalanan pasukan pengawal presiden hingga yang sekarang ini dikenal, memang penuh liku. Sebagai akibat dari kegagalan usaha perebutan kekuasaan yang dilakukan Gerakan 30 September tahun 1965, pemerintahan Presiden Sukarno beberapa bulan kemudian ikut jatuh. Sebagian anggota Tjakrabirawa terlibat dalam peristiwa G30S, oleh karena itu mereka terpaksa dibubarkan. Sebagai penggantinya dibentuk pasukan baru, dengan nama Satuan Tugas Polisi Militer Angkatan Darat (Satgas POMAD) dipimpin kolonel CPM Norman Sasono. Surat perintah alih tugas dari Resimen Tjakrabirawa kepada satgas POMAD tertanggal 23 Maret 1966. Tanggal inilah yang kemudian ditetapkan sebagai hari lahirnya Pasukan Pengamanan presiden (Paspampres) dengan motto “Setia Waspada”. Paspampres lahir seiring munculnya pemerintahan orde baru. Tetapi sesungguhnya, pembentukan satuan tugas khusus untuk mengawal presiden telah dimulai sejak peresmian Resimen Tjakrabirawa pada 6 Juni 1963, bertepatan dengan hari ulang tahun Presiden Sukarno. Dengan nama Tjakrabirawa, Satgas POMAD maupun Paspampres, tugas pasukan tersebut tetap sama, malakukan pengamaman terhadap presiden dan wakil presiden berikut keluarganya, serta menjaga seluruh Istana Kepresidenan. Cikal bakal Paspampres, dalam bentuk Tjakarabirawa, memang baru hadir pada pertengahan 1963. Tetapi tidak berarti sebelum itu presiden Indonesia tidak punya pengawal. Selama perang kemerdekaan, ketika ibukota masih di yogyakarta, polisi militer mengawal presiden dan menjaga istana. Hanya saja khusus untuk pengawalan pribadi Bung Karno mempercayakan sepenuhnya kepada para anggota polisi dibawah pimpinan Letkol Polisi Mangil Martowidjojo. Seusai pengakuan kedaulatan, ketika pusat pemerintahan kembali ke Jakarta, penugasan kepada CPM tetap berlanjut. Dibentuk Detasemen Polisi Militer Khusus untuk mengawal Presiden dengan nama Detasemen POM Radjasa, berkekuatan dua kompi dipimpin Kapten CPM Dahlan. Para anggota Detasemen ini dua tahun kemudian dikembangkan menjadi inti Resimen Tjkarabirawa, ditambah personil dari empat angkatan. Tugas mengawal presiden cakupannya memang luas. Ketika zaman Tjakrabirawa, pasukan tersebut berkekuatan 3000 personel. Untuk bisa memenuhi kelengkapan, Satgas POMAD kemudian merealisasi penambahan pasukan. Sehingga berkembang menjadi dua Bataliyon POMAD Para, dilengkapi Detasemen Kawal Pribadi, Detasemen Pengamanan, Detasemen Zeni, serta Detasemen Angkutan. Secara taktis Operasional Satgas POMAD berada dibawah komando Deputi Operasi Pangliama AD. Tugasnya mengawal Presiden dan melaksanakan berbagai macam acara protokoler kenegaraan . Pertengahan 1968 keluar penetapan, pasukan ini dikendalikan langsung oleh Panglima Angkatan Darat. Ketika tahun  1972 ABRI sudah terintegrasikan, pasukan gabungan MABES ABRI dengan sebutan Pasukan Pengawal Presiden (Paswalpres) komandannya bertanggung jawab kepada menteri Hankam/Panglima TNI dan secara teknis dibina POM ABRI. Sejak itu organisasi Paswalpres mulai diatur sedemikian rinci. Dibentuk Detasemen Pengamanan Khusus, suatu satuan pelaksana  untuk melakuakan  pengamanan fisik secara langsung terhadap presiden dan wapres. Detasemen Pamsus terdiri atas Kelompok Komando, Kompi Kawal Pribadi, Kompi Pengamanan Khusus dan Peleton Penyingkiran.

Mengawal atau Mengamankan

Perkembangan tahun 1976 mengubah sebutan Paswalpres menjadi Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres). Sebuatan diganti dilandasi pemikiran, kata pengamanan lebih luas cakupannya dibanding pengawalan. Sebab dalam menjaga presiden mereka tidak hanya sekedar menjaga keamanan dan keselamatan sasaran. Dalam perkembangan lebih lanjut, sesuai tuntutan situasi tahun 1983 Panglima ABRI Jenderal TNI Tri Sutrisno menetapkan, pembinaan Paspampres dikendalikan Badan Intelejen Strategis (BAIS) ABRI, Sejalan dengan semakin maraknya fungsi intelejen pada masa itu. Tetapi Jenderal TNI Feisal Tanjung beberapa waktu kemudian melepas Paspampres dari BAIS dan langsung menempatkannya dibawah komando Panglima ABRI. Tahun 1996 dilakukan pembenahan ulang, pengamanan presiden dan wakil presiden merupakan fungsi intelejen. Komandan Paspampres dijabat oleh Perwira Tinggi dengan dua bintang, wakilnya satu bintang. Selain itu juga ditentukan, unsur staf terdiri dari Asisten intelejen, Asisten Operasi, Asisten Personel, dan Asisten Logistik. Dilengkapi tambahan unsur Pelaksana, Grup C dengan beban tugas khusus, pengaman Tamu Negara dan dihadirkan Bataliyon Pengawasan dan Penyelamatan. Pembenahan Paspampres juga dilakuakan untuk bisa membentuk pasukan andal bermutu, tapi harus elok dipandang. Termasuk dalam hal ini, pembenahan seragam pasukan protokol dengan rancangan desainer Indonesia. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan budaya bangsa serta tidak menonjolkan ciri kemiliteran. Ide itu baru terlaksana saat Komandan Paspampres dijabat Mayjen TNI Sugiono dengan terpilihnya karya Samuel Wattimena sebagai pakaian seragam pasukan Protokol. Pengabdian Paspampres selalu seiring dengan kesinambungan kepemimpinan nasional. Para prajurit itu telah dan sedang dalam tugas mengamankan Presiden Sukarno, Suharto, Habibie, dan Gus Dur berikut mengamankan wapres sejak Bung Hatta, Hamengkubuwono IX, Adam Malik, Umar Wirahadikusumnah, Sudarmono, Tri Sutrisno, Habibie, Sampai Megawati dengan segala suka dukanya. Jika dihitung sejak satgas POMAD berdiri pasukan ini telah mengalami 10 kali pergantian komandan. Diawali Kolonel CPM Norman Sasono, Darsa Soemamihardjo, Moenawar Sardjono, Pranowo, Jasril Jakoeb, Sirajuddin Paiyoi, Sugiono, Endriartono Sotarto dan Mayjend TNI Suwandi yang menjabat komandan Paspampres sejak pertengahan tahun 1998.

Belajar Komputer, Ikut Mancing

Mengamankan presiden tentu punya suka duka tersendiri “semuanya tergantung pada kebiasaan pribadi presiden bersangkutan” kata Mayjen TNI Suwandi. Semasa pemerintahan Habibie Perwira CPM kelahiran Madiun Jawa timur itu ikut belajar komputer dan harus senang olahraga berenang, sesuai kegemaran Habibie. Pada masa Soeharto “……Ya harus sering main golf dan mancing di laut, karena bapaknya gemar kegiatan itu.” Mayjen TNU Suwandi punya pengalaman mengesankan ketika harus menyelamatkan Pak Harto dari sergapan badai di perairan Pulau Tunda kabupaten Serang, Jawa Barat. “ Badai mendadak datang, maka pak Harto segera saya geser  dari speedboat ke KRI Baracuda. Beliau berhasil dinaikkan ke kapal, tapi saya justru terlambat, terapung apung dulu di laut. Peristiwanya terjadi Sabtu siang, Minggu pagi datang berita duka, ibu Tien tutup usia ……” Pengalaman Paspampres berseberangan dengan aksi unjuk rasa ternyata sudah berkali kali terjadi. Wakil komandan satgas POMAD Letkol Dody Widodo mengalaminya ditahun 1966, ketika menghadapi massa mahasiswa pimpinan Cosmas Batubara dan Lim Bian  Koen yang nekad bergerak mendekati istana. Dody berdiri ditepi jalan Merdeka Utara membawa megaphone “ Jalan ini adalah garis batas yang tidak boleh dilewati. Kalau kalian nekad, kami terpaksa mempertahankan diri dan tak akan pernah ragu menembak ….” Para mahasiswa ternyata berhenti diperbatasan itu. Memang penugasan didalam negeri relative gampang dibanding mengawal perjalanan ke luar negeri. Tetapi gampang atau sulit, prosedur bakunya sama, termasuk pengiriman tim Advance untuk mencermati susunan acara, mengamati lokasi, serta menganalisa segala kemungkinanan datangnya ancaman.  Kendala utama di zaman pak Harto, kalau ada pembesar berusaha menempel agar ikut terjepret foto dokumentasi. Maklum tidak setiap orang bisa dekat presiden. Tetapi di zaman Soeharto pula, Paspampres menghadapi ujian berat ketika harus mengamankan kunjungan PM Jepang Kakuei Tanaka, berbarengan dengan meletusnya peristiwa Malari 1974 “Waktu itu saya Dan Ton seksi 1 Yon POMAD Para, tugasnya keluar masuk kampus, memantau situasi. Maka sejak didi kami tahu, mahasiswa akan menjemput Tanaka di bandara “ Kata Brigjen TNI Sirajudin Paiyoi komandan Paspampres tahun 1995. Menghadapi ancaman itu dirancang skenario penyelamatan rute Halim Perdanakusumah  sampai ke wisma Negara, tempat Tanaka menginap. Skenarionya dilengkapi pengamanan awal, pesawat terbang Tanaka harus mendarat sesudah matahari terbenam, agar penyambutan berlangsung ringkas, tanpa barisan kehormatan dan tetek-bengek seremonial. Tahap pertama berhasil. Tetapi secara bersamaan, semua rute yang harus dilalui rombongan kalau keluar dari Halim Perdanakusumah sudah terlanjur diblokade massa. Kolonel CPM Darsa Soemamihardja komandan Paspampres segera memilih rute alternative lewat Pasar rebo. Kecuali itu ia memerintahkan semua ban kendaraan demonstran harus dibikin kempes, agar mobilitasnya terputus. Sesudah perintahnya terlaksana Presiden Soeharto bersama Tanaka dilarikan lewat kawasan Lobang Buaya keluar dari pasar rebo kemudian dengan cepat dibawa masuk ke komplek Istana. Komentar Pak Harto “ Wah tadi main kucing kucingan ya …?

Ketika Letjen Prabowo Menerobos Istana

Malang nian nasib perwira remaja yang sore itu bertugas di pos depan Gedung Setneg, samping Istana Negara, Jakarta. Belum satu bulan ia ditugaskan sebagai anggota Paspampres dan malahan juga belum genap satu bulan pindah ke Jakarta. Hari itu tanggal 21 Mei 1998 Indonesia baru saja diguncang peristiwa mengagetkan. Dengan mendadak Presiden Soeharto memutuskan lengser meninggalkan kursi kepresidenan yang sudah 32 tahun didudukinya. Pada senja temaram itu tiba tiba muncul mobil landrover memakai tiga bintang, melintas didepan pos jaga. Melihat mobil itu dinaiki oleh seorang letnan jenderal, karena tanda tiga bintang dipasang dengan sigap sang perwira remaja pos jaga langsung tegak menghormat. Sejenak kemudian malah terdengar keributan kecil diruang jaga dibelakang istana. Paraanggota Paspampres disana langsung bersiaga. Komandan Paspampres Mayor TNI Endriartono Sutarto yang sedang beristiraharat setelah beberapa hari praktis tidak sempat tidur karena gawatnya situasi, segera meloncat sambil menyambar senjatanya. Apalagi seiring dengan turunnya si penumpang Landrover hampir serentak sejumlah kendaraan lapis baja ikut bermunculan, siaga diluar pagar Istana. Setia Waspada dua kata inilah motto Paspampres. Pada sore itu suasana muram tengah memeluk Jakarta dan juga komplek Istana. Sementara itu masyarakat juga dikacau oleh aneka macam isu, desas desus serta kabar burung tanpa ujung pangkalnya. Kegegeran dib pos Paspampres bisa dimaklumi, karena perwira tinggi yang melangkah turun dari mobil adalah sosok yang sangat terkenal, Letjen Prabowo Subianto Panglima Kostrad dan juga menantu Presiden Soeharto. Raut wajahnya sedikit tegang tersembunyi dibawah baret warna hijau. Dengan mantap tangan kiri memegang tongkat komando, menantu soeharto itu melangkah gagah , memakai pakaian seragam tempur, lengkap dengan sebuah pistol dipinggang. Tampaknya dia ingin menemui Presiden Habibie, yang pada siang harinya baru saja dilantik untuk menggantikan Soeharto. Menurut kesaksian anggota Paspampres “Banyak berita tidak benar tentang peristiwa ini. Jenderal Prabowo diluar jadwal,sore itu memang datang ke istana untuk menemui presiden. Tapi enggak benar kalau dia memaksa masuk dengan tetap bersenjata. Juga lebih tidak benar, pengawalnya ikut menyerobot masuk. Mereka hanya sekedar menjaga bosnya, parkir diluar pagar Istana.” Insiden yang lebih besar apalagi tembak menembak, memang tidak sampai terjadi. Prabowo ternyata kesatria yang menghormati ketentuan  protokoler Istana. Lebih dulu ia serahkan senjatanya kepada Paspampres, baru dia masuk ke ruangan dalam menemui Habibie. Pada sisi lain meskipun mungkin setia, namun karena dianggap kurang waspada, perwira remaja di pos sekneg, kemudian dikembalikan ke kesatuan yang lama. Bayangkan seorang perwira remaja melihat mobil Letnan Jendral melaju kan ya malahan langsung kaget? Agaknya dia lupa, siapapun orangnya, setiap calon tamu preiden, harus lebih dulu didaftar. Lebih kusus lagi untuk para perwira tertentu, perlu kecermatan tambahan. Tidak bisa main slonong begitu saja. Maka setiap anggota Paspampres bukan hanya sekedar setia tetapi juga harus selalu waspada ….

Pukulan Tangan Kosong

Mayjen TNI Pranowo komandan Paswalpres 1985 – 1993 melukiskan dalam setiap kunjungan keluar negeri presiden sering menghadiri 4 atau 4 acara sekaligus. Situasi ini memaksa kami memakai strategi loncat katak. Sebagian pasukan siap di hotel sisanya sudah berada ditempat tujuan kedua. Begitu presiden meninggalkan hotel anggota yang di sana langsung meluncur ke sasaran ketiga. Kecuali itu harus ada anggota lain yang selalu mendampinginya. Sangat tepat pernyataan gus Dur perjalanan ke luar negeri bukan tamasya. Banyak anggota Paspampres telah puluhan kali ikut ke luar negeri untuk mengamankan perjalanan presiden . tetapi mereka tahunya hanya bandara, hotel tempat menginap, lokasi yang dikunjungi. Begitu saja bolak balik. Tugas adalah tugas. Artinya kami harus siap mendampingi presiden selama 24 jam “ Kata Letjen TNI Sugiono yang kini menjabat sekjen Departemen Hankam. Taktik ini pernah diberlakukan Paspampres ketika mengamankan kunjungan presiden di Washington DC, AS “ kami sedang tugas kawal ketika muncul demonstran , berteriak teriak tak karuan “ Kata Letjen Sugiono. Selama demonstran masih berada di Police Line , tentu saja mudah dikontrol. “Tetapi tiba tiba ada dua orang bergerak meningggalkan barisan. Nah ini mungkin membahayakan. Saya segera perintahkan kepada anggota Paspampres ahli pukulan tangan kosong, kerjain mereka.” Perintah ini segera dilaksanakan. Tepat ditengah jalan mendadak kedua demonstran itu jatuh terduduk, sebentar kemudian seperti orang linglung mereka perlahan lahan berdiri lantas balik arah. ‘Saya Tanya anggota, mati tidak mereka ? jawabnya, ah tidak pak, paling hanya dua hari tak bisa bangun.”  Peristiwa itu menunjukkan Paspampres bias berbuat banyak. Tanpa kelihatan memukul, kami bias bikin mereka kapok. Dan tak ada ketentuan hukum kita langgar, karena kami sama sekali tidak menyentuh mereka ….” Pukulan tangan kosong khas Indonesia erna ditampilkan di AS. Tetapi ketika Paspampres mengawal presiden dalam KTT ASEAN di Manila, Filipina tahun 1987 mereka justru harus menghilangkan ciri khas Indonesia. Pada saat itu keamanan Manila sangat rawan karena terjadi revolusi rakyat, pemberontakan tentara, gerombolan komunis, dan banyak senjata liar bertebaran. Menghdapi kerawanan ini dirancang operasi pengamanan gabungan. Kecualai paspampres pengamanan juga melibatkan kapal perang TNI AL bersama pasukan Marinir yang lego jangkar di teluk Manila serta helicopter TNI AU siap tinggal landas dari lokasi samping gedung konferensi. “ Tugas di Manila waktu itu sangat menarik, Karena memadukan operasi tiga matra, darat, laut dan udara” kata Brigjen TNI Sirajuddin. Tetapi munculnya pemikiran paling brilian adalah ketika seluruh rombongan dan semua anggota paspampres dilarang memakai peci. Selama KTT ASEAN berlangsung, praktis tak ada orang Indonesia pakai peci. Hal itu dilakukan untuk mengecoh calon sniper agar mereka tidak tahu mana sasarannya. Karena semuanya membaur dengan warga serumpun ASEAN. Selaku komandan paspampres ketika mengamankan perjalanan ke Bosnia Letjen TNI Jasril Jakob terkesan kepada keteladanan Presiden Soeharto. “Ketika beliau saya minta memakai jaket pengaman dengan tenang malahan berkata lo kamu saja yang pakai. ‘Kan kamu yang harus mengamankan saya …..” kenekatan serupa juga dilakukan Presiden BJ habibie. Menurut Mayjen TNI Suwandi “Beberapa kali beliau mengemudikan sendiri mobilnya, tanpa pakai polisi pembuka jalan, kemudian ngebut sendirian.” Sebagai komandan Paspampres ketika pergantian presiden dari Soeharto ke Habibie . Mayjen TNI Endriartono Soetarto melukiskan, “Krisis moneter selalu berlanjut pada krisis politik dan kepercayaan. Ini menyebabkan personel Paspampres harus extra kerja keras, karena presiden akan jadi sasaran utama setiap aksi unjuk rasa dan harus langsung dikaitkan dengan penanganan masalah keamanan. Saat itulah ketegasan sikap justru sangat diperlukan.

Sumber : Intisari no :440 edisi Maret 2000

About these ads